Part 1
Pagi
yang cerah, udara mulai terasa hangat. Pertanda musim semi akan segera tiba.
Angin lembut yang membelai wajah cantik Atsuko membuatnya tergoda untuk
memejamkan mata sebentar meresapi ketenangan yang ia rasakan di bangku taman
kota. Ketika matanya mulai terpejam, segala pikirannya mulai lepas dari
kepalanya. Ia akan mulai tertidur ketika tiba-tiba ia merasakan ada seseorang
yang menepuk bahu kirinya dengan pelan. Atsuko pun tersentak dan dengan reflek
menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang mengganggunya menikmati pagi
yang cerah ini.
Ketika
Atsuko menoleh, telah didapati olehnya seorang gadis cantik bermata coklat
dengan rambut hitam lurus yang panjang menatapnya dengan senyum tersungging di
bibirnya. Dialah orang yang telah nantikan oleh Atsuko.
Atsuko : (dengan wajah
sebal) “Kau terlambat, aku sudah menunggumu lama sekali sampai bosan dan hampir
tertidur, kau tau?”
Yuko : (masih
dengan tersenyum senyum) “Maafkan aku ya, tadi malam aku begadang dan baru
tidur jam 4 pagi sehingga inilah yang terjadi. Aku bangun terlambat. Jangan
marah padaku,ya?”
Yuko
berusaha membujuk Atsuko agar ia tak marah padanya karena ia datang terlambat
untuk bertemu dengannya.
Yuko : (tersenyum
geli) “Kau marah padaku?”
Atsuko : (masih marah)
“Aku? Marah padamu? Mana mungkin?”
Yuko :
(menggosok-gosok kedua tangannya sambil memohon) “Ayolah, jangan marah. Aku kan
gak cuma datang terlambat sekali. Eng, berapa kali ya...?” (berpikir)
Atsuko : (masih dengan
sinis) “Berkali-kali, bahkan terlalu sering sehingga membuatku lelah menunggu
terus”
Yuko : (memaksa
Atsuko untuk menoleh padanya) “Hei, ini juga bukan salahku seutuhnya. Kau tahu
tugas skripsi ini membuatku hampir gila. Kau tau kan, aku tukang tidur. Dan apa
jadinya si tukang tidur ini ketika mendapat jam tidur yang sangat sedikit
karena skripsi. Ayolah, kau mengerti aku kan?”
Atsuko : (datar) “Hmmmm....”
Yuko : (memandang
Atsuko dengan menunjukkan mata tak berdosa seperti anak kecil) “ Ya, ya, ya,
ya???? Aku benar-benar menyesal. Aku berjanji akan mecoba tepat waktu lain
kali. Lagi pula apa alasanmu mengajakku bertemu hari ini. Ada apa?”
Atsuko
menghela nafas dengan berat. Seperti inilah ia, ia tak pernah betah
berlama-lama marah pada sahabatnya yang satu ini. Mereka telah bersahabat baik
sejak SMA dan masih bersahabat sampai mereka kuliah seperti sekarang. Dengan
berat hati, Atsuko mulai mengesampingkan perasaan kesalnya ini.
Atsuko : “Baiklah, aku
memaafkanmu. Lain kali jangan kau ulangi, atau aku akan benar-benar marah. Aku
ingin memberitahumu tentang reuni kunjungan kita ke pemakaman Jurina bersama
yang lain. Jangan bilang kau lupa?”
Yuko : “Oh, itu.
Aku tak lupa. Kita berkumpul dengan yang lain kapan?”
Atsuko : “Besok, jam 9
pagi di Halte Bis dekat Universitas. Jangan terlambat, mereka akan marah besar
padamu.”
Yuko : “Baiklah,
apa ada hal yang harus aku lakukan?”
Atsuko : “Jangan lupa
bawa bunga Lily kesukaannya dan juga oleh-oleh untuk Paman dan Bibi Matsui. Aku
ingin memastikan bahwa kau tak lupa dan tak terlambat sehingga aku juga kena
omel yang lainnya.”
Yuko : “Baiklah,
kalau begitu sampai besok. Hoammm.... Aku mengantuk sekali, aku pikir aku akan
tidur panjang hari ini. Dah....”
Yuko
pun beranjak bangkit dari kursi taman itu, melambai pada Atsuko dan bergegas
pulang ke apartemennya. Atsuko memandang kepergian Yuko dan mulai melamun. Ia
teringat akan sahabatnya, Jurina yang telah pergi meninggalkan mereka pada
kelas 3 SMA. Ia pergi meninggalkan duka
mendalam bagi keluarga dan para sahabatnya. Ia sakit-sakitan sejak kecil dan
bertambah para ketika ia menginjak dewasa. Namun, ia pergi dengan senyuman, ia
sudah mempersiapkan diri akan hal ini.
Atsuko
teringat kenangan berberapa tahun lalu, ketika ia masih duduk di bangku kelas 2
SMA. Saat itu musim semi, bunga-bunga sakura yang mekar mulai gugur. Hari itu
adalah hari kelulusan kakak kelas mereka dan setelah selesai dilaksanakannya
upacara kelulusan, Atsuko, Yuko, Mayu, Yuki dan Jurina bergegas keluar dari
Aula Sekolah menuju halaman sekolah dimana pohon-pohon sakura disana mulai
berguguran dengan indah. Mereka bermain-main dan bersantai di bawah pohon
sakura yang paling besar, yaitu yang berada di tengah halaman.
Mayu : “Jika kita
lulus nanti kalian akan melanjutkan kemana? Kalian ingin jadi apa?”(bertanya
dengan penasaran sambil memandang satu persatu sahabatnya)
Atsuko : “ Aku ingin
ke Universitas Tokyo, tapi aku ingin menjadi aktris.”
Yuko : “Wah, kita
sepertinya sama. Kau akan menjadi musuhku kalau begitu. Aku ingin menjadi
aktris yang mewakili Jepang.”
Mayu : “Sepertinya
kalian akan bersaing ketat. Kalian dari agency yang berbeda kan? Aku pikir akan
terjadi permusuhan dalam persahabatan. Ini menarik.”
Yuki : ”Aku
ingin menjadi penyanyi.”
Mayu : “Aku pikir
itu cocok untukmu, suaramu merdu dan kau sendiri sudah cantik, bahkan semua
murid laki-laki menyukaimu, dan kau juga baik.”
Yuki : (tersipu)
“Aku tidak begitu, suaraku masih tak bagus. Aku pikir masih butuh kursus lagi
dan aku ingin mencoba ikut audisi untuk masuk agency.”
Mayu : (tersenyum
ceria) “Semoga beruntung. Aku pikir kau tak butuh waktu lama untuk debut, ya
kan?” (bertanya pada yang lain)
Jurina : “Aku pikir
begitu. Kau berbakat, Yuki.”
Atsuko,
Yuko dan Mayu dengan yakin mengangguk tanda setuju pada pernyataan Jurina. Mayu
yang antusias pun bahkan mengangguk berkali-kali.
Jurina : (menatap
dengan sedih) “Aku ingin tumbuh dewasa bersama kalian. Melihat kalian meraih
impian-impian kalian.”
Yang
lain serentak ikut meratap sedih. Mereka tau tentang penyakit Jurina. Waktu
kebersamaan mereka tak akan lama.
Jurina : (ceria
kembali) “Aku akan mendukung kalian dari sana.” (Sambil menunjuk ke langit)
Atsuko,
Yuko, Mayu dan Yuki masih tampak murung. Mereka padahal tadi seakan lupa pada
kenyataan bahwa Jurina tak akan bersama mereka dalam waktu yang lama.
Jurina : “Hei,
jangan sedih. Aku tak ingin waktuku dengan kalian kuisi dengan bersedih. Aku
ingin melihat kalian tersenyum dan tertawa bersamaku. Walau aku nanti akan
pergi, jangan lupakan aku ya.”
Yuki : “Aku tak
mungkin melupakanmu, kau sahabat baik kami. Kami akan selalu ada untukmu disaat
senang maupun sedih.”
Yuko : (wajah
sedih) “Kami akan kehilanganmu.”
Jurina : “Tidak, aku
akan terus bersama kalian dalam kenangan. Maka dari itu, buatlah banyak
kenangan indah bersamaku.”
Atsuko : “Aku...Hiks,
... Me... Nya..Ya...Ngi...Mu.....Hiks, hiks, hiks” (telah terisak dalam tangis)
Tangis
pun pecah, Atsuko menangis kencang, Mayu dan Yuko berusaha tetap tegar sambil
menahan air mata mereka tumpah. Yuko yang pertahanan tubuhnya sudah jebol pun
sekarang memeluk Jurina sambil terisak.
Yuko : “Aku...
takut...”
Mayu : (mulai
mengangis) “Jangan pergi...”
Jurina : (air mata
mulai menggenang di sudut mata) “Aku masih berada disini.”
Atsuko,
Mayu dan Yuki kini telah bergabung untuk memeluk Jurina sambil menangis.
Yuki : “Kita
akan selalu menjadi sahabat. Kalian adalah sahabat terbaikku.”
Jurina : “Disetiap
pertemuan akan selalu ada perpisahan kan? Aku tak tahu kapan aku akan pergi,
tapi aku ingin pergi dengan senyuman. Tak ada yang menangis, aku ingin
merasakan bahwa kalian bahagia bersamaku. Di sisa waktuku ini. Aku akan selalu
ada di hati kalian, kan?”
Atsuko,
Yuko, Mayu dan Yuki serempak mengangguk dan mulai mengangis lagi di pelukan
Jurina. Jurina sekuat tenaga berusah menenangkan sahabat-sahabatnya ini. Ia pun
juga berusaha mengendalikan dirinya agar tak ikut menangis juga. Mayu merasa
bersalah karena membawa topik impian mereka untuk dibicarakan, ia menangis
semakin kencang.
-To be continued-








0 komentar:
Posting Komentar