Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Sakura's Memories on Spring

Part 1
 (Inspired by AKB48 - Sakura no ki ni narou)
                Pagi yang cerah, udara mulai terasa hangat. Pertanda musim semi akan segera tiba. Angin lembut yang membelai wajah cantik Atsuko membuatnya tergoda untuk memejamkan mata sebentar meresapi ketenangan yang ia rasakan di bangku taman kota. Ketika matanya mulai terpejam, segala pikirannya mulai lepas dari kepalanya. Ia akan mulai tertidur ketika tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang menepuk bahu kirinya dengan pelan. Atsuko pun tersentak dan dengan reflek menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang mengganggunya menikmati pagi yang cerah ini.
                Ketika Atsuko menoleh, telah didapati olehnya seorang gadis cantik bermata coklat dengan rambut hitam lurus yang panjang menatapnya dengan senyum tersungging di bibirnya. Dialah orang yang telah nantikan oleh Atsuko.
Atsuko  : (dengan wajah sebal) “Kau terlambat, aku sudah menunggumu lama sekali sampai bosan dan hampir tertidur, kau tau?”
Yuko      : (masih dengan tersenyum senyum) “Maafkan aku ya, tadi malam aku begadang dan baru tidur jam 4 pagi sehingga inilah yang terjadi. Aku bangun terlambat. Jangan marah padaku,ya?”
                Yuko berusaha membujuk Atsuko agar ia tak marah padanya karena ia datang terlambat untuk bertemu dengannya.
Yuko      : (tersenyum geli) “Kau marah padaku?”
Atsuko  : (masih marah) “Aku? Marah padamu? Mana mungkin?”
Yuko      : (menggosok-gosok kedua tangannya sambil memohon) “Ayolah, jangan marah. Aku kan gak cuma datang terlambat sekali. Eng, berapa kali ya...?” (berpikir)
Atsuko  : (masih dengan sinis) “Berkali-kali, bahkan terlalu sering sehingga membuatku lelah menunggu terus”
Yuko      : (memaksa Atsuko untuk menoleh padanya) “Hei, ini juga bukan salahku seutuhnya. Kau tahu tugas skripsi ini membuatku hampir gila. Kau tau kan, aku tukang tidur. Dan apa jadinya si tukang tidur ini ketika mendapat jam tidur yang sangat sedikit karena skripsi. Ayolah, kau mengerti aku kan?”
Atsuko  : (datar) “Hmmmm....”
Yuko      : (memandang Atsuko dengan menunjukkan mata tak berdosa seperti anak kecil) “ Ya, ya, ya, ya???? Aku benar-benar menyesal. Aku berjanji akan mecoba tepat waktu lain kali. Lagi pula apa alasanmu mengajakku bertemu hari ini. Ada apa?”
                Atsuko menghela nafas dengan berat. Seperti inilah ia, ia tak pernah betah berlama-lama marah pada sahabatnya yang satu ini. Mereka telah bersahabat baik sejak SMA dan masih bersahabat sampai mereka kuliah seperti sekarang. Dengan berat hati, Atsuko mulai mengesampingkan perasaan kesalnya ini.
Atsuko  : “Baiklah, aku memaafkanmu. Lain kali jangan kau ulangi, atau aku akan benar-benar marah. Aku ingin memberitahumu tentang reuni kunjungan kita ke pemakaman Jurina bersama yang lain. Jangan bilang kau lupa?”
Yuko      : “Oh, itu. Aku tak lupa. Kita berkumpul dengan yang lain kapan?”
Atsuko  : “Besok, jam 9 pagi di Halte Bis dekat Universitas. Jangan terlambat, mereka akan marah besar padamu.”
Yuko      : “Baiklah, apa ada hal yang harus aku lakukan?”
Atsuko  : “Jangan lupa bawa bunga Lily kesukaannya dan juga oleh-oleh untuk Paman dan Bibi Matsui. Aku ingin memastikan bahwa kau tak lupa dan tak terlambat sehingga aku juga kena omel yang lainnya.”
Yuko      : “Baiklah, kalau begitu sampai besok. Hoammm.... Aku mengantuk sekali, aku pikir aku akan tidur panjang hari ini. Dah....”
                Yuko pun beranjak bangkit dari kursi taman itu, melambai pada Atsuko dan bergegas pulang ke apartemennya. Atsuko memandang kepergian Yuko dan mulai melamun. Ia teringat akan sahabatnya, Jurina yang telah pergi meninggalkan mereka pada kelas 3  SMA. Ia pergi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan para sahabatnya. Ia sakit-sakitan sejak kecil dan bertambah para ketika ia menginjak dewasa. Namun, ia pergi dengan senyuman, ia sudah mempersiapkan diri akan hal ini.
                Atsuko teringat kenangan berberapa tahun lalu, ketika ia masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu musim semi, bunga-bunga sakura yang mekar mulai gugur. Hari itu adalah hari kelulusan kakak kelas mereka dan setelah selesai dilaksanakannya upacara kelulusan, Atsuko, Yuko, Mayu, Yuki dan Jurina bergegas keluar dari Aula Sekolah menuju halaman sekolah dimana pohon-pohon sakura disana mulai berguguran dengan indah. Mereka bermain-main dan bersantai di bawah pohon sakura yang paling besar, yaitu yang berada di tengah halaman.
Mayu    : “Jika kita lulus nanti kalian akan melanjutkan kemana? Kalian ingin jadi apa?”(bertanya dengan penasaran sambil memandang satu persatu sahabatnya)
Atsuko  : “ Aku ingin ke Universitas Tokyo, tapi aku ingin menjadi aktris.”
Yuko      : “Wah, kita sepertinya sama. Kau akan menjadi musuhku kalau begitu. Aku ingin menjadi aktris yang mewakili Jepang.”
Mayu    : “Sepertinya kalian akan bersaing ketat. Kalian dari agency yang berbeda kan? Aku pikir akan terjadi permusuhan dalam persahabatan. Ini menarik.”
Yuki        : ”Aku ingin menjadi penyanyi.”
Mayu    : “Aku pikir itu cocok untukmu, suaramu merdu dan kau sendiri sudah cantik, bahkan semua murid laki-laki menyukaimu, dan kau juga baik.”
Yuki        : (tersipu) “Aku tidak begitu, suaraku masih tak bagus. Aku pikir masih butuh kursus lagi dan aku ingin mencoba ikut audisi untuk masuk agency.”
Mayu    : (tersenyum ceria) “Semoga beruntung. Aku pikir kau tak butuh waktu lama untuk debut, ya kan?” (bertanya pada yang lain)
Jurina    : “Aku pikir begitu. Kau berbakat, Yuki.”
                Atsuko, Yuko dan Mayu dengan yakin mengangguk tanda setuju pada pernyataan Jurina. Mayu yang antusias pun bahkan mengangguk berkali-kali.
Jurina    : (menatap dengan sedih) “Aku ingin tumbuh dewasa bersama kalian. Melihat kalian meraih impian-impian kalian.”
                Yang lain serentak ikut meratap sedih. Mereka tau tentang penyakit Jurina. Waktu kebersamaan mereka tak akan lama.
Jurina    : (ceria kembali) “Aku akan mendukung kalian dari sana.” (Sambil menunjuk ke langit)
                Atsuko, Yuko, Mayu dan Yuki masih tampak murung. Mereka padahal tadi seakan lupa pada kenyataan bahwa Jurina tak akan bersama mereka dalam waktu yang lama.
Jurina    : “Hei, jangan sedih. Aku tak ingin waktuku dengan kalian kuisi dengan bersedih. Aku ingin melihat kalian tersenyum dan tertawa bersamaku. Walau aku nanti akan pergi, jangan lupakan aku ya.”
Yuki        : “Aku tak mungkin melupakanmu, kau sahabat baik kami. Kami akan selalu ada untukmu disaat senang maupun sedih.”
Yuko      : (wajah sedih) “Kami akan kehilanganmu.”
Jurina    : “Tidak, aku akan terus bersama kalian dalam kenangan. Maka dari itu, buatlah banyak kenangan indah bersamaku.”
Atsuko  : “Aku...Hiks, ... Me... Nya..Ya...Ngi...Mu.....Hiks, hiks, hiks” (telah terisak dalam tangis)
                Tangis pun pecah, Atsuko menangis kencang, Mayu dan Yuko berusaha tetap tegar sambil menahan air mata mereka tumpah. Yuko yang pertahanan tubuhnya sudah jebol pun sekarang memeluk Jurina sambil terisak.
Yuko      : “Aku... takut...”
Mayu    : (mulai mengangis) “Jangan pergi...”
Jurina    : (air mata mulai menggenang di sudut mata) “Aku masih berada disini.”
                Atsuko, Mayu dan Yuki kini telah bergabung untuk memeluk Jurina sambil menangis.
Yuki        : “Kita akan selalu menjadi sahabat. Kalian adalah sahabat terbaikku.”
Jurina    : “Disetiap pertemuan akan selalu ada perpisahan kan? Aku tak tahu kapan aku akan pergi, tapi aku ingin pergi dengan senyuman. Tak ada yang menangis, aku ingin merasakan bahwa kalian bahagia bersamaku. Di sisa waktuku ini. Aku akan selalu ada di hati kalian, kan?”

                Atsuko, Yuko, Mayu dan Yuki serempak mengangguk dan mulai mengangis lagi di pelukan Jurina. Jurina sekuat tenaga berusah menenangkan sahabat-sahabatnya ini. Ia pun juga berusaha mengendalikan dirinya agar tak ikut menangis juga. Mayu merasa bersalah karena membawa topik impian mereka untuk dibicarakan, ia menangis semakin kencang.

-To be continued-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar