Part 1
“Nana
nana, nana nana yeah, you are the music in me…”, terdengar suara dering sms
dari Hpku. Segera kuraih HP yang berada di meja belajar dengan susah payah.
Terlihat nama “Chiku” di layar dan dengan penuh semangat aku pun membuka sms
tersebut.
“Sibuk?
Ayo ke rumah Yoon Se Kyung!”
“Hah,
ngapain… tugas dari sekolah masih banyak, gak ingat?”, balasku dengan cepat .
“Ayolah,
main sambil ngerjain tugas, kan nanti disana kamu bisa nanya-nanya ke dia”
“Oh…
hmmm, eh, emangnya mau kesana kapan?”
“Sekaranglah”
“What???
Ini kan udah siang…”, kagetku melihat jawabannya itu.
“Ya
biarin, ayo dong?”, dari nada smsnya terlihat begitu bersemangat dan memelas,
aku tidak tega menolak ajakan itu. Lagi pula dia orang yang kusuka sejak kelas
1 Middle School. Tapi ada yang aneh darinya, tak biasanya ia sms-an denganku.
Ia bahkan jarang sekali mengirim sms kepadaku. Apakah terjadi sesuatu? Aku
terus memutar otak mencari jawaban dari semua ini sampai…
“Hoi,
ayo dong, Rena, Nozawa Rena! Biar gak kesorean…”, balasan smsnya mengagetkanku
dan mengacaukan pikiranku.
“Oh,
iya ayo, tapi aku ajak Matsui Himawari dan Shin Ha Young, ya?”
“Oke…
cepetan, eh, aku nebeng kamu ya…!”
Aku
pun segera pergi mandi dan bersiap-siap, tak lupa aku sms Hima-run dan Yoongi,
panggilan kesayanganku pada Matsui Himawari dan Shin Ha Young.
Setelah
siap, aku pun segera melesat membawa sepeda motorku itu ke rumah Chiku dulu, eh
Min Ho maksudnya. Namun karena salah sms, aku pun di tengah jalan dirundung
kebingungan, antara menjemput Hima-run dulu atau langsung ke rumah Min Ho.
Bingung memilih cinta atau sahabat.
Atas
nama sahabat pun, aku segera menjemput Hima-run dulu kemudian ke Rumah Min Ho.
Sesampainya disana, aku segera menelpon Yoongi, agar ia langsung ke rumah Min
Ho karena aku sudah menjemput Hima-run. Setelah menutup telepon, aku dan
Hima-run pun baru menyadari bahwa warna baju kami bertiga adalah merah.
“Wah
kita seperti mau demo saja ya…?”, candaku.
Setelah
itu dataglah Yoongi dengan wajah marah namun tetap terlihat calm. Ia memarahiku
yang plin-plan ini. Aku pun segera menyudahi pertengkaran ini, dan mengajak
untuk segera ke rumah Se Kyung. Semuanya pun mengiyakan.
Rumah
Se Kyung ada di pinggir kota Busan, Korea Selatan. Sebuah desa dengan
pemandangan alam yang indah dan juga ada kebun, serta bukit. Kami pergi kesana
dengan aku bersama Min Ho berboncengan berdua, dan Hima-run bersama Yoongi juga
berdua.
Aku
dan Min Ho memimpin jalan dengan berada di depan, sementara Hima-run dan Yoongi
ada di belakang kami. Sepanjang perjalanan aku terus saja diam, dan hanya
berbicara saat ia bertanya. Aku begitu deg-degan berada di belakangnya. Dalam
hatiku sudah bertebaran bunga-bunga dan juga coffeti yang meletup-letup. Aku
hanya bisa diam tanpa kata, takut salah bicara dan juga salah tingkah
dibuatnya, karena sudah diketahui bahwa ketika aku bersamanya rasanya hati dan
otakku ini tidak sinkron, yang membuatku sulit untuk berkata-kata.
Hima-run
dan Yoongi yang berada di belakangku pun hanya bisa tertawa cekikikan
melihatku. Bahkan Hima-run mengirimiku sms.
“Rena-chan,
kamu kog gak pegangan sih, nanti jatuh lho. Pegangan saja ke pinggang Min Ho :P
“
“Kurang
ajar”, balasku singkat dengan tersenyum pada merka berdua.
Di
perjalanan, aku hanya bisa memaki dirimu. Kenapa aku diam? Kenapa aku seperti
ini? Aduh, apa yang harus aku lakukan? Kapan penderitaan ini akan berakhir?
Sekitar satu jam bersamanya serasa begitu lama seperti kecepatan bumi berputar
menurun drastis dan hanya kami berdua yng terjebak di dalamnya, mungkin karena
aku terlalu gugup bersamanya. Karena ini adalah momen yang paling aku inginkan
selama ini dari banyak sekali harapanku di wishlist.
Sesampainya disana, kami pun disambut dengan ramah oleh orangtua Se Kyung, akum pun masih tak bisa merasakan atmosfir yang sepertinya mulai berubah merah muda. Sikap seperti biasa, itulah yang kurasakan. Semua berjalan seperti biasa, kami mulai belajar. Sampai kemudian,
Sesampainya disana, kami pun disambut dengan ramah oleh orangtua Se Kyung, akum pun masih tak bisa merasakan atmosfir yang sepertinya mulai berubah merah muda. Sikap seperti biasa, itulah yang kurasakan. Semua berjalan seperti biasa, kami mulai belajar. Sampai kemudian,
“Hahaha,
lucu banget sih kejadian itu”, kataku sambil menahan tawa pada Yoongi.
Aku
pun segera menyudahi tawaku dan fokus pada setumpuk PR yang sedang di depan
mata. Aku melirik kepada Min Ho yang kupikir tak menepati janjinya padaku
karena ia tidak kunjung mengajariku PR yang begitu sulit ini. Aku pun hanya
bisa mendesah dan mengeluarkan eye smirk.
Kemudian,
tanpa kusangka-sangka, atmosfir tiba-tiba berubah, serasa aku ada di dunia
fantasi yang begitu indah. Ya, dunia seperti di dongeng Alice In Wonderland.
Namun sayang, dunia ini bukan milikku, saat aku melihat mereka berdua, aku
merasakan ada yang membisikkan sesuatu padaku.
“Kau
lihat, kau hanya pengganggu. Kau bukan siapa-siapa. Ku tak pantas untuknya.
Lihat mereka, begitu serasi bukan?”, ia berbisik tepat di telingaku kemudian
tertawa seperti devil yang telah menang perang.
Saat
kutoleh ke belakang yang kudapat hanya kehampaan, tak ada siapa-siapa di
belakangku. Dan beberapa detik kemudian aku pun tersadar bahwa itu hanya ilusi,
hanya imajinasiku. Aku selalu berfikir bahwa aku tertalu banyak mempunyai
imajinasi sehingga terkadang aku hidup dalam mimpi dan merasa bahwa diriku
telah tenggelam kedalamnya. Itu karena aku pikir bahwa aku sudah begitu nyaman
di dalamnya, begitu gembira, membangun ceritaku sendiri seperti dalam dongeng.
Hidup di dunia mimpi itulah diriku.
Ku
lihat Min Ho dan Se Kyung begitu nyaman ketika mereka bersama, begitu serasi.
Tapi apakah kisah ini akan berakhis=r sampai disini? Belum, ini masih prolog.
Ketika
kami belajar, tiba-tiba Seo Young, adik Se Kyung menggangu kami. Terlihat dari
auranya, ia begitu cerah, seperti sedang jatuh cinta. Tai bukankah ia masih Elementary
School. Ah, sepertinya tebakanku meleset lagi. Kemudian ketika Min Ho
menyuruhnya untuk memakai syal agar terlihat cantik, aku begitu heran. Secepat
kilat ia segera masuk ke kamarnya kemudian keluar bersama sehelai syal cantik
di tangannya. Ia pun dengan manja meminta Se Kyung untuk membantu untuk
mengenakannya. Wah, sepertinya tebakanku kali ini benar. Ini buktinya. Lagi
pula dulu ketika aku dan teman-teman ke rumah Se Kyung, kemudian salah satu
temanku Yoon Ha mencoba mengejek Seo Young bahwa Seo Young menyukai Min Ho.
Lucunya Seo Young kemudian langsung menangis, sepertinya begitu banyak yang
menyukai Min Ho. Aku sendiri penasaran apa kelebihannya shingga dapat memikat
banyak hati seperti ini.
Karena
lelah setelah belajar, Se Kyung mengusulkan untuk mengajak kami pergi melihat
Buragu, sebuah bukit kecil nan indah. Kami pun kompak setuju dan langsung cabut
ke sana. Seperti keadaan awal saat berangkat ke rumah Se Kyung, Hima-run
bersama Yoongi, Se Kyung bersama Seo Young, dan Min Ho bersamaku. Perjalanan
tak begitu jauh, tapi aku pikir perjalanan ini terasa begitu lama. Lagi, kenapa
seperti ini lagi, apakah aku benar-benar telah menyukainya? Tapi bukankah
pepatah mengatakan bahwa “Jika bersama orang yang kita sukai maka 1 hari terasa
1 jam, dan 1 jam terasa 1 detik”. Namun, kenapa aku malah merasa bahwa waktu
semakin lama ketika aku bersamanya. Jadi, apakah aku menyukainya? Berkali-kali
aku coba untuk bertanya pada hatiku ini, tapi ia masih tak menjawab. Ia justru
tertawa mendengar pertanyaanku. Ia sendiri malah balik bertanya,
“Ck,
sekarang aku tanya apa yang kaurasakan? Aku rasa itulah jawabannya”, balasnya
dengan nada sok bijak.
Jalanan
di penuhi pohon-pohon, namun terlihat begitu cantik, indah, moodku hari ini
benar-benar sedang bagus. Kemudian, sampailah kami di Buragu. Tematnya begitu
indah, rindang, tapi aku, Yoongi dan Hima-run kompak berkata,
“Tempat
ini indah, tapi tak sebagus Kebun Teh, ehm so sweet…”
- To be continued-








2 komentar:
tak terasa sudah 3 tahun ya kejadian ituu :) .. so sweet sekali, sampai menguras perasaan hatii :D HAHAHA
hahaha, iya... masih inget kamu.... kenangan masa lalu....
Posting Komentar