Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

KEYLOGGER


                  Apa sih Keylogger itu?


              Banyak metode untuk merekam aktifitas pengguna komputer… Ada yang berdasarkan key stroke (rekaman langsung semua kata yang dipencet di keyboard), ada yang memantau clipboard Windows (yang pake Windows nih..), ada juga keylogger yang secara terang-terangan memiliki interface yang cantik, padahal ternyata menipu. Dan mungkin masih banyak lagi cara-cara “logging” aktifitas pengguna dengan memanfaatkan keylogger. Let's check it out..!
Sebelumnya, ada alasan mengapa saya menulis tentang keylogger ini. Saya mengutip pembicaraan seorang ahli keamanan komputer yang menjelaskan kurang lebih begini:
“Keylogger adalah aplikasi yang bisa merekam password yang di ketik oleh pengguna”.
            Pernyataan ini sedikit menggelitik bagi saya. Ya, padahal itu adalah salah satu penerapan dari keylogger! Tapi bukan itu saja yang bisa dilakukan keylogger! Paham?
Tapi karena yang ngomongnya adalah seorang ahli sekuriti, mungkin saya bisa menerima statement beliau diatas itu. Tapi alangkah baiknya kalo menjelaskan kepada orang yang awam komputer itu se-jelas-jelasnya. Jangan sepotong-sepotong. Tapi mungkin jika kita takut mereka orang-orang awam ini malah jadi bingung, bisa gunakan analogi atau ilustrasi ringan, dan gak usah bahas masalah teknisnya… Karena pembodohan masyarakat bisa berasal dari hal-hal kecil seperti ini. Hehehe…
Pertama, mari kita bahas keylogger yang membaca clipboard Windows… Sebagai contoh, kita coba meng-copy kata ini: “s3cr3t_pa5sw0rd”. Copynya dari aplikasi mana saja… Notepad juga boleh lah… Terus setelah kita mengcopy kata tersebut. Silakan ke Start->Run. Dalam input-an isi dengan “clipbrd” dan tekan [ENTER]. Sehingga anda melihat window sebagai berikut:
Tampilan Clipbrd Windows
Tampilan Clipbrd Windows
                Binggo, ternyata semua aktifitas copy (sebelum di paste) di taronya di clipbrd toh..?? Hmm… Sudah banyak keylogger yang memonitor clipbrd Windows anda loh. Hati-hati klo PC anda sudah terinfeksi keylogger semacam ini, jangan sekali-kali meng-copy password (ATAU JUGA kata-kata penting lainnya). Karena semua yang anda copy, pasti masuk ke clipbrd…!!
                Sekarang contoh selanjutnya: keylogger yang tidak anda sangka-sangka adalah sebuah keylogger… Hehehe… Inilah dia, aplikasi kecil buatan saya waktu masih pintar ngoding (hahaha). Aplikasi lucu ini secara sepintas seperti aplikasi ramalan cinta biasa. Tapi dibalik itu semua, saya sudah menanamkan keylogger di inputannya. Aplikasinya bisa dilihat seperti ini:
Tampilan LoveMetre
Tampilan LoveMetre
            Simple ‘kan? Dan anda mestinya langsung ngerti… (Tombol “PORTEND” maksudnya “RAMAL”)
             Sebagai contoh, saya masukan nama JOKO sebagai sang korban. Si JOKO pertama-tama saya yakinkan bahwa nama cewe yang dia taksir ga akan ketahuan. Soalnya lihat aja tuh, input yang dimasukkannya disembunyikan pake karakter (*). Ya ‘kan?
Joko percaya-percaya aja sama saya. Dia kemudian memasukkan nama cewe yang dia taksir ke dalam inputan tsb. Dan… ramalannya mengatakan kecocokan antara JOKO dan si do’I adalah 70,5% euy!! Terlihat wajah Joko yang berseri-seri… Oke sampai sini biarin aja dulu dia senang bahagia hehey… Dan ketika si Joko udah pulang, saya buka deh file hasil rekam aplikasi ini bernama “JOKO.txt”… Inilah dia hasilnya tadaaa…
Hasil KeyLogging Ramalan Cinta
Hasil KeyLogging Ramalan Cinta
             Nah sekarang anda sudah tau kan apa itu keylogger dalam arti yang sebenarnya?
KEYLOGGER GA HARUS MEREKAM PASSWORD! Ya, rekam apa saja… Tapi ya emang udah barang tentu yang paling enak di rekam adalah yang berharga-berharga seperti password, no kartu kredit, dsb. Untuk itu keylogger lebih sering memantau yang kayak gitu-gitu ketimbang yang kayak gini-gini. Hehehe…
Jangan salah kaprah tentang keylogger. Sedikit aja salah menjelaskan, kasihan ke orang awam… Hehehe
Tampilan Ketika Keluar dari Aplikasi LoveMetre
Tampilan Ketika Keluar dari Aplikasi LoveMetre

Cr : https://blog.tibandung.com/apa-itu-keylogger/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Trip To Japan

At Narita Airport
Rizuki    : Irassaimase. Welcome to Tokyo, Japan.
Gilang   : Hi, Rizuki-chan. Long time no see, huh?
Elita        : Who is she?
Gilang   : She is my niece. My aunty married Hiro Kashiwagi uncle, whose nationality is Japanese and lived at Tokyo.
Rizuki    : Hai, sou desu. Watashi no namae wa Kashiwagi Rizuki desu. Yoroshiku onegaishimasu. Yes, that’s right. My name is Rizuki Kashiwagi and you call me Rizuki-chan. I’ll be your guide tour here. Nice to meet you.
All           : Nice to meet you, too.
Elda        : My name is Elda Winata
Elita        : And I am Elita Hanum. Wow, your English is really good, not as I expected from a Japanese.
Gilang   : She is used to speaking in English to communicate with our whole family and speaking in Japanese with her family and friends. But she can’t speak in Indonesia. So, just speak in English with her.
All           : Oooh…
Elda        : Emm, where is our hotel to stay? Is it far away from here?
Rizuki    : It is at Four Seasons Hotel, Tokyo. No, it is not too far from here.
Gilang   : Oh, thanks God. I am exhausted and sleepy, I really need some sleeps.
Elita        : That’s right. It’s a very long air journey. More than 10 hours.
Rizuki    : The car which waited us is over there. Follow me…!!
At hotel
Rizuki    : Your suites are already booked, it is on presidential suite. Is it okay?
Elita        : Oh, that’s okay.
Elda        : We’re just check in. Let’s go to our suites.
Gilang   : Wow, I am impress to the hotel’s decoration, and the facility is complete, too.
Rizuki    : Thank’s for your praise, Gilang-kun. See you tomorrow. Good night.
All           : Good night.
At Tokyo Tower
Rizuki    : So, here is Tokyo Tower. Does anyone know about Tokyo Tower?
Gilang   : Tokyo Tower is the tallest tower in Japan and World. Wow, how high it is!
Elda        : It is also called Tokyo Sky Tree, isn’t it?
Elita        : Aaa, Musashi. What an amazing tower!
Rizuki    : Yes, you are right. With the height of 634 meters or 2.080 ft or called Musashi for 634, it became the tallest structure in Japan. Tokyo Tower or Tokyo Sky Tree is a broadcasting, restaurant, and observation tower in Sumida, Tokyo, Japan. Does anyone know what colour it is?
Elda        : White, of course.
Rizuki    : You are nearly right. Anyone?
All           : Emm???
Rizuki    : The exterior lattice is painted a colour officially called "Skytree White". This is an original colour based on a bluish white traditional Japanese colour called aijiro. It also have two illumination patterns Iki (chic, stylish) sky blue and Miyabi (elegance, refinement) purple will be used, alternating daily. The tower is illuminated using LED lights.
Gilang   : How beautiful! Ouch, I am hungry. Can we get some foods?
Elita        : Oh, I want to eat okonomiyaki.
Elda        : How about takoyaki? Sushi? It is already worldwide, and I want to taste the real Japan taste.
Gilang   : How about ramen? Or kare? Like in Naruto anime.
Rizuki    : Wow, wow, calm down. The nearest restaurant here is Ramen. How about it? We can eat, Kare, Takoyaki, Okonomiyaki, and Sushi next time.
Elita        : Okay, let’s go! Could you show me the direction?
Rizuki    : Just go ahead until the junction and turn left.
At Restaurant
Gilang   : wow, it is really delicious. My stomach is full. I think I can’t eat again.
Elita        : It is because you eat 2 bowl by yourself. Do you regret it?
Gilang   : No, I am not.
Elda        : It is because the ramen is really delicious, isn’t it? Em, Rizuki-san, how do we say that it is really delicious in Japanese?
Rizuki    : Ah, tottemo oishii desu.
All           : Tottemo oishii desu.
Rizuki    : So, we’re all done eating, right? Let’s go to Akihabara District.
Gilang   : Akihabara? It Is the largest town collecting all kinds of electronic appliances and devices in the world. The products at the very top of technology are always abundantly available there.
Elda        : Oh, you knew it?
Gilang   : Of course, I do really like gadget and other electronic device.
Rizuki    : Here is it. Akihabara Electric Town.
Elita        : Wow, it is really crowded here. I can see so many electronic device’s brand here.
Rizuki    : So, how about we go to Don Quijote? It is more crowded there. We can see many things other than electronic devices like anime merchandise, figure, and Idol. Many Oota  (anime and manga fans) and Wota (Idol fans) gathered here. We can also see AKB48 Theater, where AKB48 members as we call Idols perform everyday, there.
Elita        : Wah, I want to watch some show and buy some souvenirs for my family.
Elda        : I want to buy doraemon merchandise, detective conan merchandise, etc.
Gilang   : I want to buy some anime figure like Naruto and Hatsune Miku. Oh, oh, oh, and some anime DVDs, too.
Rizuki    : Okay, let’s go!
After from Don Quijote
Gilang   : Wow, AKB48 Team B’s show ‘’Pajama Drive’’ was really fun, they’re so energic, cute, and oh my God. Do you believe that Mayu Watanabe or Mayuyu, AKB48’s Queen, gave me a wink during the show. She is so beautiful.
Elda        : Oh, God. Can’t you just repeat that story over and over again. I’m getting tired because you repeat it all over this two hours.
Elita        : Just be as usual. You’re so annoying for about this two hours.
Rizuki    : Hahahahaha, you’re so lucky to have an eyelock and wink from her. She is so famous in Japan.
Gilang   : Rizuki-san, where are we going?
Elita        : Are we going to see cherry blossom tree? Where is it?
Elda        : Wow, cherry blossom tree? I just ever seen it  from picture or the fake form when Chinese New Year.
Rizuki    : Yes, we’re going to see the blooming cherry trees at Shinjuku Gyoen or Shinjuku Park near here.
At Shinjuku Gyoen
Rizuki    : Kirei desu, ne? Beautiful, isn’t it?
Elda        : Wow, how beautiful! I see many people picnicking under the blooming cherry trees, and the Somei Yoshino trees despite their lack of blossoms.
Elita        : Some people are even taking siestas in the shade of the trees.
Gilang   : It is called Hanami, right? The Japanese’s tradition to see and picnic under the blooming cherry trees.
Rizuki    : You are right. Hanami is a spring festival that formed from two words. It is ‘’Hana’’ which means ‘’Flower’’ and ‘’Mi’’ or ‘’Mite’’ which means ‘’See or watch’’. So, Hanami means see flowers.
Elita        : On Japanese song, I heard that the blooming cherry trees indicated the graduation of scholars.
Rizuki    : Yes, the sakura petals is the analogy of scholars.
Elda        : Then, the fallen sakura petals means the time of graduation of scholars.
Gilang   : In Indonesia, the graduation is on May, but in Japan, it is on the end of March or the beginning of April.
Rizuki    : The graduation here is on the same time with the blooming cherry tree. There is a tradition on graduation which the girl asking for the number two button of boy’s uniform. It means the girl asking for the boy’s heart.
Elita        : So, when the boy giving it…
Elda        : He accepted the girl’s feeling on him, right?
Rizuki    : Of course…
Gilang   : Well, it is such a fun trip today. Let’s go back to hotel! I am tired.
Elita        : Sure it is, I am tired, too.
Elda        : Okay, let’s take the train’s next departure. Thanks for your time to guide us on a trip today. We’re all having so much fun. See you tomorrow.
Rizuki    : You’re welcome. See you tomorrow, guys.











  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

We're On The Same Path

                                                                      Part 1

             Kantung mataku ini telah bertumpuk menjadi dua semanjak kemarin. Akhirnya hari-hari tersulit dalam hidupku telah berakhir, UJIAN, yang kuinginkan saat ini hanyalah tidur di kasurku yang empuk dan tenggelam dalam lautan mimpi indah. Belajar semalaman beberapas hari ini membuatku lelah tingkat dewa dan juga mengantuk pastinya, jam tidurku yang biasanya sehari sekitar 11 jam-an hanya menjadi 6 jam per hari.
                “Hoam…”, aku menguap panjang sambil mendesah.
Hari yang panjang kulewati sudah, dengan sedikit sisa tenagaku yang ada telah kukuras untuk bercanda dengan teman-teman tadi. Aku pikir dengan tertawa bisa menghilangkan rasa lelah yang mencekat ini, namun alhasil malah tubuh ini semakin berat, sampai aku hanya bisa berjalan sempoyongan menuju ke rumah.
Melewati jalanan kota Seoul di malam hari begitu menenangkan, suasana yang begitu tenang bagaikan dalam drama yang sering kutonton di televisi. Duduk di bangku taman yang sepi sambil memandang taburan jutaan bintang di langit. Tak biasanya langit begitu terang seperti ini, mungkin musin semi akan segera dimulai. Melihat pemandangan ini setidaknya melupakan sejenak rasa lelah yang mencengkram kuat ini.
“Ting, ting, ting…”, suara ringtone handphoneku berbunyi.
Kuangkat telepon itu enggan karena malas mendengar teriakan-teriakannya yang minta diangkat.
“Hallo ? Yeoboseyo?”, ucapku lirih dengan sisa sedikit kekuatan.
“Rena ! Nozawa Rena-chan, lagi ada dimana? Cepat pul…”
“Tut… Tut…”, kumatikan handphoneku karena risih dengan suara ultrasonik Yoon Nam Joo, adik
sepupuku yang sekarang duduk di bangku Middle School dan kulemparkan hanphoneku ke samping bangku taman yang tengah ketempati saat ini. Disampingku duduk seorang lelaki, namun wajah tak terlihat, tertutupi oleh gelapnya malam.
                Ku ambil handphoneku, lalu aku pun bergegas lari menuju ke Stasiun Kereta Bawah Tanah Seoul, mengejar jam keberangkatan kereta tercepat selanjutnnya. Jam menunjukkan waktu pukul 07.00 KST ketika aku telah sampai di rumah. Ya, ini bukanlah rumahku, namun rumah Om dan Tanteku karena aku memilih untuk sekolah di Seoul setelah lama tinggal di Aichi, Jepang.
                Pilihan yang sulit karena aku harus meninggalkan orangtuaku dan tinggal disini, tapi jika aku tetap berada di Jepang aku begitu sendirian, kedua orangtuaku sibuk bekerja sementara aku hanya ditemani oleh beberapa pembantu. Aku menyayangi mereka, tapi aku juga ingin belajar mandiri, toh orangtuaku juga mengizinkanku.
                “Bruk… “, aku membiarkan tubuhku ini terhempas ke kasur.
                “Aku harus tidur… Heng, tapi bagaimana dengan proposal kemanusiaanku?, sepertinya tubuhku ini sudah mengamuk, baiklah, aku akan tidur saja…”, “ Akan kukerjakan proposal itu besok. Hoam…”, dengan segera aku pun terlena ke dalam mimpi, dan tak memperdulikan apapun yang akan terjadi besok.
                “Tok, tok, tok, tok….”, “Tok, tok, tok, rena-chan bangun. Nanti kesiangan, sudah jam 08.10, sebentar lagi kamu akan terlambat”, teriak Bibi Moon yang tengah berusaha keras sejak pagi membangunkanku yang memang susah sekali dibangunkan, bahkan terkenal sebagai “Late Girl”. Bukan hanya ketika bangun tidur yang terlambat, tapi juga ketika ada janji dengan teman selalu ngaret.
                “Hm, aku bangun.”, jawabku dengan suara lemah dan tak bertenaga.
                Segera aku pergi mandi dan bersiap ke sekolah. Karena telat, sampai-sampai aku memakan roti sarapanku dengan menggigitnya sambil membawanya berlari bersamaku dengan menenteng sepatuku.
                Saat kulirik jam tanganku, betapa kagetnya aku mengetahui bahwa sekarang sudah hampir jam 08.30. Kupercepat langkah kakiku namun tak berhasil, gerbang sekolah sudah ditutup dan Pak Kim, penjaga sekolah tak memperbolehkanku masuk. Dengan kecewa, aku pun berlari menuju tembok belakang sekolah. Aku berniat untuk memanjat dinding itu lagi.
                “Yah, panjat tembok lagi, jadi Spiderman deh!”, “Ini gara-gara kamu sih, dasar handphone dodol, kenapa kamu gak bangunin aku, hah?”, kumarahi si handphone yang malang karena kesal.
                “Ting, tung…”, suara sms masuk.
                Aku melotot melihat handphone ini.
                “Lho ini kan bukan handphone aku, lha trus ini handphone siapa?”, “Ah, ya sudahlah, akan kuurus nanti saja, sekarang yang penting adalah masuk ke sekolah, oke, Ganbatte!”,ucapku dengan penuh semangat.
                Saat aku tengah dalam kesulitan memanjat tembok, tiba-tiba terdengar suara.
                “Kresek, kresek..”, suara semak yang tersikap oleh seseorang.
                Lalu, muncullah sesosok cowok tampan yang tak pernah kulihat sebelumnya.
                “Hei, apa yang sedang kamu lakukan?”, tanya dengan nada cool abis yang membuat aku berdecak kagum.
                “Hei, apa kau dengar aku?”, teriaknya sekali lagi. Ia sekarang tengah berada di samping kaki kiriku yang terjulai karena posisiku sekarang sedang di tengah tembok.
                “Heng, iya, aku mau masuk…”, teriakannya membuyarkan kekagumanku.
                “Oh, sini aku bantu…!”, tawarnya sambil tersenyum. Senyuman itu begitu mempesona. Penuh kharisma, namun begitu cool rasanya. Tapi tunggu, ia mengenakan seragam yang berbeda denganku, itu berarti ia bukan dari sekolahku. Hatiku masih bertanya tanya.
                Tanpa kusadari, tanganku telah digenggam olehnya. Srrr…. Suara desiran angin berhembus pelan bersamaan dengan coffeti-cofetti yang meledak menebarkan bunga-bunga di musim dingin ini. Apa yang terjadi padaku, mengapa aku menjadi seperti ini, aku bahkan tak mengenalnya. Apakah ini… cinta pada pandangan pertama? Entahlah, aku tak tahu. Tanpa terasa tubuhku ini sudah berdiri di samping tembok bagian dalam sekolah.
                Aku memutar kepalaku mencari-cari dimana sosoknya, tapi aku tak dapat menemukannya.
                “Kau dimana?”, tanyaku dalam hati.
                Seketika, aku pun sadar. Aku harus bergegas masuk kelas, sebelum guru datang dan aku terkena semprotannya.
                Beberapa jam kemudian,
                “Ting, ting, ting…”, suara bel pulang sudah menggema. Aku rasa bunyi bel itu terlalu kencang, bahkan dengan begitu kerasnya suara itu dapat membuat telinga para siswa tuli, bahkan bisa memecahkan kaca jendela sekolah.
                Aku pun bergegas akan pulang ketika aku ingat akan handphoneku yang tertukar.
                “Apakah mungkin, tertukar saat di taman, ya?”,”Mungkin saja”.
                Aku pun mencoba menelpon handphoneku.
                “Beep, beep, beep, beep…”, suara tunggu sambungan telpon.
                “Yeoboseyo! Ada yang bisa saya bantu?”, terdengar suara jawaban dari sana.
                “Maaf, saya ingin memberi tahu bahwa handhone kita tertukar. Sekali lagi maaf atas kesalahan saya”, aku terus meminta maaf sambil membungkuk seperti yang diajarkan adikku.
                “Hei, kau kenapa lama sekali baru menelponku, aku sudah menunggu untuk kau meminta aaf padaku dan mengembalikan handphoneku itu”,jawabnya dengan ketus yang membuat emosiku berubah.
                “Oh, maafkan aku. Bagaimana kalau aku mengembalikannya sekarang. Aku sedang berada di depan Serin High School. Anda ada dimana, aku akan kesana.”
                “Baiklah, aku sedang ada di Café Prince, Hongdae. Kemarilah, aku tunggu. Awas kau jika sampai tidak datang dan membawa kabur handphoneku”.
                “Iya, tunggu sebentar. 15 menit lagi aku akan sampai”.
                Sesampainya disana, aku kesulitan mencari dimana sosoknya. Aku pun berinisiatif untuk menelponnya sambil mencari sosoknya. Ya, itu dia. Pria tampan dengan seragam sekolah. What? Ia masih anak sekolah. Tapi dia cukup tampan, hei apa yang sedang aku pikirkan. Dia pemarah. Aku pun menghampirinya,
                “Maaf sudah menunggu…”, sapaku dengan kepala tertunduk.
                “Hei, ku tahu aku sudah menunggu begitu lama. Kenapa kau terlambat? Apa kau tidak tahu bahwa aku sedang sibuk. Sudahlah, mana handphoneku.”, ia mengulurkan tangannya.
                “Iya, maafkan aku sekali lagi. Ini dia..”, jawabku sambil menunjukkan handphone yang sedari tadi kukantongi.
                Ia pun langsung menyahut handphonenya kemudian ia menoleh padaku.
                “Hei, siapa namamu? Aku Kang Kyung Joon”, ia bersuara dengan suara yang begitu cool padahal dari tadi ia mengomeliku, bahkan sambil tersenyum manis.
                “A, aku Nozawa Rena”, ucapku lirih sambil tersenyum karena aku melihat ekspresinya bisa berubah begitu cepat.
                “Oh, kau orang jepang. Tapi kau cukup cantik”, katanya sambil melirikku dari ujung kepala sampai kaki.
                “Iya, maaf sepertinya aku harus pergi”, pamitku pulang.
                “Hei, tunggu dulu. Bagaimana kalau sebagai permintaan maaf kau menjadi pacarku?”
                “Haaaaa….?!?!?”, mulutku masih menganga dan otakku masih mencerna perkataannya. Cowok yang aneh, baru kenal saja sudah mengajak pacaran. Apa ia sudah gila? Tapi bukankah ia cowok yang begitu mempesona, jika cewek lain menjadi aku pastilah sudah menerima dengan senang hati. Tapi aku bukan mereka, aku ingin menolak, tapi sebelum itu terjadi…
                “Hei, aku tak butuh kata Ha darimu, yang kubutuhkan adalah jawaban Ya. Baiklah, karena kau diam saja, akan kuanggap itu jawaban Ya”, katanya membuyarkan lamunanku.
                “Tapi, tapi…”
                “Ah, sudah. Aku tidak menerima kata Tidak darimu”
                “Tapi, tapi, tapi…”, aku ingin memberontak saat ia mulai menarikku keluar dari Café, tapi entah kenapa tubuh ini menurut saja. Sepertinya tubuhku ini tidak sinkron dengan otakku. Sial.
                “Kau mau pulangkan? Ayo, aku antar”, ia menyeretku ke parkiran sepeda motor. Dan Wow, sepeda motornya begitu keren. Aku sampai melongo melihatnya.
                “Ayo cepat naik”, katanya dengan kasar padaku.
                “Iya”
                “Hei, awas kau kalau sampai memelukku dari belakang”, godanya.
                Ih, memangnya siapa yang mau memelukmu dari belakang. Kemudian aku pun mulai bingung, dimana aku harus berpegangan. Di motor ini tidak ada pegangan seperti motor biasa. Aku pun dengan terpaksa berpegangan pada jaket kulit yang ia kenakan.
                Namun tak kusangka, ia begitu gila. Apa ia sudah mau mati? Ia membawaku dengan kecepatan luar biasa, 150 km/jam. Ia sebenarnya pembalap atau Gimana? Tak berhenti aku berfikir hingga ia memberhentikan motornya secara mendadak yang otomatis membuatku terdorong ke depan dan secara refreks memeluknya dari belakang.
                “Hei, cepat turun…! Dan sudah kubilang jangan memelukku, kenapa kau tetap memelukku?”, katanya dengan kasar.
                “Hei, aku tidak memelukmu, ini juga karena kau mengerem mendadak.”, bantahku tidak kalah ketus.
                Aku pun segera turun dari motornya itu dan segera masuk ke rumah. Ia pun  segera menutup kaca helmnya kemudian melesat entah kemana dengan cepat. Aku masih terpaku pada pikiranku. Masih bingung dengan kejadian hari ini, aku pun berjalan sambil melamun menuju ke kamar.
                Masih memikirkan kejadian tadi, aku mulai marah.
                “Hei, kenapa aku tadi diam saja ketika dia menyeretku? Jadi, apakah aku dan dia jadian? Apa? Aku dan dia, si pemarah itu… Oh My God? Apa yang baru saja kulakukan? “, “Tapi aku tidak mencintainya, bagaimana ini?”, belum sempat aku melanjutkan pikiranku, Nam Joo memanggilku dengan suara manja + aegyonya.
                “Onee-chan, Eonni, Rena-chan, sedang apa? Ayo makan…!”, ajaknya dengan gaya sok manis yang membuatku eneg.
                “Iya, sebentar lagi”
                “Eonni, Eomma dan Appa sudah menunggu. Ngomong-ngomong cowok yang tadi nganter Eonni puan siapa? Kog cakep banget, mau dong dikenalin… Pacarnya Eonni, ya?”, godanya.
                “Eh, siapa? Bukan siapa-siapa… Ayo makan…!”, jawabku mengalihkan perkataannya sambil menyeretnya keluar dari kamarku.
                Setelah makan malam, aku pun segera masuk ke kamar lagi untuk belajar. Sekitar jam 09.30 aku selesai belajar. Aku pun beranjak tidur dan menarik bed coverku hingga menutupi seluruh tubuhku, hingga saat aku hampir terlelap dalam tidur, handphoneku pun berdering dengan keras. Menjerit-jerit minta segera diangkat dan mengakhiri penderitaannya.
                Dengan malas, aku pun meraba-raba meja di samping tempat tidurku. Aku mengerjapkan mata, kemudian meraih handphone yang sedari tadi menyiksaku.
                “Halo? Yeoboseyo? Ini siapa sih ganggu tidur orang”, bentakku tanpa melihat layar siapa yang sedang menelpon.
                “Hei, kenapa kau marah padaku? Harusnya aku yang marah karena kau lama sekali mengangkat telpon”, jawabnya dengan suara yang terdengar marah. Suara ini suara yang sepertinya kukenali, ya, ini adalah suara si pemarah, Kyung Joon.
                “Iya ada apa? Oh, ya aku baru ingat. Darimana kau tahu alamat rumahku?”
                “Ya tahulah, dari handphonemu…”
                “Oh, heh, kenapa kau menelponku malam-malam begini. Kau mengganggu tidurku”
                “Aku hanya mau bilang, besok aku jemput. Bye”, dengan segera ia menutup telponnya dan yang tersisa hanya aku yang masih bingung dengan kelakuannya. Malam-malam menelpon hanya untuk bilang bahwa besok akan menjemput, itu pun dengan marah-marah.
                Keesokan harinya,
                “Aku berangkat…”, teriakku dari luar rumah kepada Bibi Moon.
                “Ciiit……………….”, suara rem super dadakan mengacaukan pikiranku.
                “Naik!”, katanya dengan stay cool. Aku masih terbingung dengan semuanya, dan menganggap kejadian kemarin hanyalah mimpi kini harus frustasi karena hal yang kuinginkan sebagai mimpi ternyata adalah sebuah kenyataan. OMG, kapan hal ini kan berakhir. Aku berusaha kabur dengan berlari sekencang-kencangnya, namun apadaya dengan kecepatan lariku ini, aku keburu tertangkap olehnya. Dengan lemas dan pasrah aku pun naik motor super keren tersebut, dan tanpa kusangka-sangka segera beberapa detik setelah aku duduk, ia langsung menancap gas dan sukses membuatku kaget, dan jantungan, eh dan jangan lupa hampir jatuh juga, untung saja aku langsung berpegangan pada pinggangnya agar aku tak terjatuh. Eitts, tunggu dulu, apakah tadi aku bilang aku sedang memegang pinggangnya. WHAT!!!! Aku pun segera tersadar dan segera melepaskan peganganku.
                Aku pun tiba di sekolah dengan selamat, bisa gila aku jika terus-terusan bersamanya, setiap nyawaku terbang satu ketika naik motornya. Aku hanya bisa berdecak. Setibanya di sekolah pun aku segera di buru dengan tatapan kaget, bingung, tak percaya, shock, dan penuh tanda tanya dari semua orang, bahkan tak terkecuali Pak Kim.

                Beberapa murid cewek mulai bergosip dikejauhan yang terdengar cukup keras bagiku hingga sekitar 250 meter jauhnya. Mereka mulai bertanya-tanya siapakah cowok keren yang mengantarku tadi. Sebagian dari mereka menganggap bahwa cowok itu adalah pacarku, namun yang lainnya menganggapku……….

- To be continued -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Goodbye, My Love

                                                                             Part 1
                 “Nana nana, nana nana yeah, you are the music in me…”, terdengar suara dering sms dari Hpku. Segera kuraih HP yang berada di meja belajar dengan susah payah. Terlihat nama “Chiku” di layar dan dengan penuh semangat aku pun membuka sms tersebut.
                “Sibuk? Ayo ke rumah Yoon Se Kyung!”
                “Hah, ngapain… tugas dari sekolah masih banyak, gak ingat?”, balasku dengan cepat .
                “Ayolah, main sambil ngerjain tugas, kan nanti disana kamu bisa nanya-nanya ke dia”
                “Oh… hmmm, eh, emangnya mau kesana kapan?”
                “Sekaranglah”
                “What??? Ini kan udah siang…”, kagetku melihat jawabannya itu.
                “Ya biarin, ayo dong?”, dari nada smsnya terlihat begitu bersemangat dan memelas, aku tidak tega menolak ajakan itu. Lagi pula dia orang yang kusuka sejak kelas 1 Middle School. Tapi ada yang aneh darinya, tak biasanya ia sms-an denganku. Ia bahkan jarang sekali mengirim sms kepadaku. Apakah terjadi sesuatu? Aku terus memutar otak mencari jawaban dari semua ini sampai…
                “Hoi, ayo dong, Rena, Nozawa Rena! Biar gak kesorean…”, balasan smsnya mengagetkanku dan mengacaukan pikiranku.
                “Oh, iya ayo, tapi aku ajak Matsui Himawari dan Shin Ha Young, ya?”
                “Oke… cepetan, eh, aku nebeng kamu ya…!”
                Aku pun segera pergi mandi dan bersiap-siap, tak lupa aku sms Hima-run dan Yoongi, panggilan kesayanganku pada Matsui Himawari dan Shin Ha Young.
                Setelah siap, aku pun segera melesat membawa sepeda motorku itu ke rumah Chiku dulu, eh Min Ho maksudnya. Namun karena salah sms, aku pun di tengah jalan dirundung kebingungan, antara menjemput Hima-run dulu atau langsung ke rumah Min Ho. Bingung memilih cinta atau sahabat.
                Atas nama sahabat pun, aku segera menjemput Hima-run dulu kemudian ke Rumah Min Ho. Sesampainya disana, aku segera menelpon Yoongi, agar ia langsung ke rumah Min Ho karena aku sudah menjemput Hima-run. Setelah menutup telepon, aku dan Hima-run pun baru menyadari bahwa warna baju kami bertiga adalah merah.
                “Wah kita seperti mau demo saja ya…?”, candaku.
                Setelah itu dataglah Yoongi dengan wajah marah namun tetap terlihat calm. Ia memarahiku yang plin-plan ini. Aku pun segera menyudahi pertengkaran ini, dan mengajak untuk segera ke rumah Se Kyung. Semuanya pun mengiyakan.
                Rumah Se Kyung ada di pinggir kota Busan, Korea Selatan. Sebuah desa dengan pemandangan alam yang indah dan juga ada kebun, serta bukit. Kami pergi kesana dengan aku bersama Min Ho berboncengan berdua, dan Hima-run bersama Yoongi juga berdua.
                Aku dan Min Ho memimpin jalan dengan berada di depan, sementara Hima-run dan Yoongi ada di belakang kami. Sepanjang perjalanan aku terus saja diam, dan hanya berbicara saat ia bertanya. Aku begitu deg-degan berada di belakangnya. Dalam hatiku sudah bertebaran bunga-bunga dan juga coffeti yang meletup-letup. Aku hanya bisa diam tanpa kata, takut salah bicara dan juga salah tingkah dibuatnya, karena sudah diketahui bahwa ketika aku bersamanya rasanya hati dan otakku ini tidak sinkron, yang membuatku sulit untuk berkata-kata.
                Hima-run dan Yoongi yang berada di belakangku pun hanya bisa tertawa cekikikan melihatku. Bahkan Hima-run mengirimiku sms.
                “Rena-chan, kamu kog gak pegangan sih, nanti jatuh lho. Pegangan saja ke pinggang Min Ho :P “
                “Kurang ajar”, balasku singkat dengan tersenyum pada merka berdua.
                Di perjalanan, aku hanya bisa memaki dirimu. Kenapa aku diam? Kenapa aku seperti ini? Aduh, apa yang harus aku lakukan? Kapan penderitaan ini akan berakhir? Sekitar satu jam bersamanya serasa begitu lama seperti kecepatan bumi berputar menurun drastis dan hanya kami berdua yng terjebak di dalamnya, mungkin karena aku terlalu gugup bersamanya. Karena ini adalah momen yang paling aku inginkan selama ini dari banyak sekali harapanku di wishlist.
                Sesampainya disana, kami pun disambut dengan ramah oleh orangtua Se Kyung, akum pun masih tak bisa merasakan atmosfir yang sepertinya mulai berubah merah muda. Sikap seperti biasa, itulah yang kurasakan. Semua berjalan seperti biasa, kami mulai belajar. Sampai kemudian,
                “Hahaha, lucu banget sih kejadian itu”, kataku sambil menahan tawa pada Yoongi.
                Aku pun segera menyudahi tawaku dan fokus pada setumpuk PR yang sedang di depan mata. Aku melirik kepada Min Ho yang kupikir tak menepati janjinya padaku karena ia tidak kunjung mengajariku PR yang begitu sulit ini. Aku pun hanya bisa mendesah dan mengeluarkan eye smirk.
                Kemudian, tanpa kusangka-sangka, atmosfir tiba-tiba berubah, serasa aku ada di dunia fantasi yang begitu indah. Ya, dunia seperti di dongeng Alice In Wonderland. Namun sayang, dunia ini bukan milikku, saat aku melihat mereka berdua, aku merasakan ada yang membisikkan sesuatu padaku.
                “Kau lihat, kau hanya pengganggu. Kau bukan siapa-siapa. Ku tak pantas untuknya. Lihat mereka, begitu serasi bukan?”, ia berbisik tepat di telingaku kemudian tertawa seperti devil yang telah menang perang.
                Saat kutoleh ke belakang yang kudapat hanya kehampaan, tak ada siapa-siapa di belakangku. Dan beberapa detik kemudian aku pun tersadar bahwa itu hanya ilusi, hanya imajinasiku. Aku selalu berfikir bahwa aku tertalu banyak mempunyai imajinasi sehingga terkadang aku hidup dalam mimpi dan merasa bahwa diriku telah tenggelam kedalamnya. Itu karena aku pikir bahwa aku sudah begitu nyaman di dalamnya, begitu gembira, membangun ceritaku sendiri seperti dalam dongeng. Hidup di dunia mimpi itulah diriku.
                Ku lihat Min Ho dan Se Kyung begitu nyaman ketika mereka bersama, begitu serasi. Tapi apakah kisah ini akan berakhis=r sampai disini? Belum, ini masih prolog.
                Ketika kami belajar, tiba-tiba Seo Young, adik Se Kyung menggangu kami. Terlihat dari auranya, ia begitu cerah, seperti sedang jatuh cinta. Tai bukankah ia masih Elementary School. Ah, sepertinya tebakanku meleset lagi. Kemudian ketika Min Ho menyuruhnya untuk memakai syal agar terlihat cantik, aku begitu heran. Secepat kilat ia segera masuk ke kamarnya kemudian keluar bersama sehelai syal cantik di tangannya. Ia pun dengan manja meminta Se Kyung untuk membantu untuk mengenakannya. Wah, sepertinya tebakanku kali ini benar. Ini buktinya. Lagi pula dulu ketika aku dan teman-teman ke rumah Se Kyung, kemudian salah satu temanku Yoon Ha mencoba mengejek Seo Young bahwa Seo Young menyukai Min Ho. Lucunya Seo Young kemudian langsung menangis, sepertinya begitu banyak yang menyukai Min Ho. Aku sendiri penasaran apa kelebihannya shingga dapat memikat banyak hati seperti ini.
                Karena lelah setelah belajar, Se Kyung mengusulkan untuk mengajak kami pergi melihat Buragu, sebuah bukit kecil nan indah. Kami pun kompak setuju dan langsung cabut ke sana. Seperti keadaan awal saat berangkat ke rumah Se Kyung, Hima-run bersama Yoongi, Se Kyung bersama Seo Young, dan Min Ho bersamaku. Perjalanan tak begitu jauh, tapi aku pikir perjalanan ini terasa begitu lama. Lagi, kenapa seperti ini lagi, apakah aku benar-benar telah menyukainya? Tapi bukankah pepatah mengatakan bahwa “Jika bersama orang yang kita sukai maka 1 hari terasa 1 jam, dan 1 jam terasa 1 detik”. Namun, kenapa aku malah merasa bahwa waktu semakin lama ketika aku bersamanya. Jadi, apakah aku menyukainya? Berkali-kali aku coba untuk bertanya pada hatiku ini, tapi ia masih tak menjawab. Ia justru tertawa mendengar pertanyaanku. Ia sendiri malah balik bertanya,
                “Ck, sekarang aku tanya apa yang kaurasakan? Aku rasa itulah jawabannya”, balasnya dengan nada sok bijak.
                Jalanan di penuhi pohon-pohon, namun terlihat begitu cantik, indah, moodku hari ini benar-benar sedang bagus. Kemudian, sampailah kami di Buragu. Tematnya begitu indah, rindang, tapi aku, Yoongi dan Hima-run kompak berkata,

                “Tempat ini indah, tapi tak sebagus Kebun Teh, ehm so sweet…”

- To be continued-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sakura's Memories on Spring

Part 1
 (Inspired by AKB48 - Sakura no ki ni narou)
                Pagi yang cerah, udara mulai terasa hangat. Pertanda musim semi akan segera tiba. Angin lembut yang membelai wajah cantik Atsuko membuatnya tergoda untuk memejamkan mata sebentar meresapi ketenangan yang ia rasakan di bangku taman kota. Ketika matanya mulai terpejam, segala pikirannya mulai lepas dari kepalanya. Ia akan mulai tertidur ketika tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang menepuk bahu kirinya dengan pelan. Atsuko pun tersentak dan dengan reflek menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang mengganggunya menikmati pagi yang cerah ini.
                Ketika Atsuko menoleh, telah didapati olehnya seorang gadis cantik bermata coklat dengan rambut hitam lurus yang panjang menatapnya dengan senyum tersungging di bibirnya. Dialah orang yang telah nantikan oleh Atsuko.
Atsuko  : (dengan wajah sebal) “Kau terlambat, aku sudah menunggumu lama sekali sampai bosan dan hampir tertidur, kau tau?”
Yuko      : (masih dengan tersenyum senyum) “Maafkan aku ya, tadi malam aku begadang dan baru tidur jam 4 pagi sehingga inilah yang terjadi. Aku bangun terlambat. Jangan marah padaku,ya?”
                Yuko berusaha membujuk Atsuko agar ia tak marah padanya karena ia datang terlambat untuk bertemu dengannya.
Yuko      : (tersenyum geli) “Kau marah padaku?”
Atsuko  : (masih marah) “Aku? Marah padamu? Mana mungkin?”
Yuko      : (menggosok-gosok kedua tangannya sambil memohon) “Ayolah, jangan marah. Aku kan gak cuma datang terlambat sekali. Eng, berapa kali ya...?” (berpikir)
Atsuko  : (masih dengan sinis) “Berkali-kali, bahkan terlalu sering sehingga membuatku lelah menunggu terus”
Yuko      : (memaksa Atsuko untuk menoleh padanya) “Hei, ini juga bukan salahku seutuhnya. Kau tahu tugas skripsi ini membuatku hampir gila. Kau tau kan, aku tukang tidur. Dan apa jadinya si tukang tidur ini ketika mendapat jam tidur yang sangat sedikit karena skripsi. Ayolah, kau mengerti aku kan?”
Atsuko  : (datar) “Hmmmm....”
Yuko      : (memandang Atsuko dengan menunjukkan mata tak berdosa seperti anak kecil) “ Ya, ya, ya, ya???? Aku benar-benar menyesal. Aku berjanji akan mecoba tepat waktu lain kali. Lagi pula apa alasanmu mengajakku bertemu hari ini. Ada apa?”
                Atsuko menghela nafas dengan berat. Seperti inilah ia, ia tak pernah betah berlama-lama marah pada sahabatnya yang satu ini. Mereka telah bersahabat baik sejak SMA dan masih bersahabat sampai mereka kuliah seperti sekarang. Dengan berat hati, Atsuko mulai mengesampingkan perasaan kesalnya ini.
Atsuko  : “Baiklah, aku memaafkanmu. Lain kali jangan kau ulangi, atau aku akan benar-benar marah. Aku ingin memberitahumu tentang reuni kunjungan kita ke pemakaman Jurina bersama yang lain. Jangan bilang kau lupa?”
Yuko      : “Oh, itu. Aku tak lupa. Kita berkumpul dengan yang lain kapan?”
Atsuko  : “Besok, jam 9 pagi di Halte Bis dekat Universitas. Jangan terlambat, mereka akan marah besar padamu.”
Yuko      : “Baiklah, apa ada hal yang harus aku lakukan?”
Atsuko  : “Jangan lupa bawa bunga Lily kesukaannya dan juga oleh-oleh untuk Paman dan Bibi Matsui. Aku ingin memastikan bahwa kau tak lupa dan tak terlambat sehingga aku juga kena omel yang lainnya.”
Yuko      : “Baiklah, kalau begitu sampai besok. Hoammm.... Aku mengantuk sekali, aku pikir aku akan tidur panjang hari ini. Dah....”
                Yuko pun beranjak bangkit dari kursi taman itu, melambai pada Atsuko dan bergegas pulang ke apartemennya. Atsuko memandang kepergian Yuko dan mulai melamun. Ia teringat akan sahabatnya, Jurina yang telah pergi meninggalkan mereka pada kelas 3  SMA. Ia pergi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan para sahabatnya. Ia sakit-sakitan sejak kecil dan bertambah para ketika ia menginjak dewasa. Namun, ia pergi dengan senyuman, ia sudah mempersiapkan diri akan hal ini.
                Atsuko teringat kenangan berberapa tahun lalu, ketika ia masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu musim semi, bunga-bunga sakura yang mekar mulai gugur. Hari itu adalah hari kelulusan kakak kelas mereka dan setelah selesai dilaksanakannya upacara kelulusan, Atsuko, Yuko, Mayu, Yuki dan Jurina bergegas keluar dari Aula Sekolah menuju halaman sekolah dimana pohon-pohon sakura disana mulai berguguran dengan indah. Mereka bermain-main dan bersantai di bawah pohon sakura yang paling besar, yaitu yang berada di tengah halaman.
Mayu    : “Jika kita lulus nanti kalian akan melanjutkan kemana? Kalian ingin jadi apa?”(bertanya dengan penasaran sambil memandang satu persatu sahabatnya)
Atsuko  : “ Aku ingin ke Universitas Tokyo, tapi aku ingin menjadi aktris.”
Yuko      : “Wah, kita sepertinya sama. Kau akan menjadi musuhku kalau begitu. Aku ingin menjadi aktris yang mewakili Jepang.”
Mayu    : “Sepertinya kalian akan bersaing ketat. Kalian dari agency yang berbeda kan? Aku pikir akan terjadi permusuhan dalam persahabatan. Ini menarik.”
Yuki        : ”Aku ingin menjadi penyanyi.”
Mayu    : “Aku pikir itu cocok untukmu, suaramu merdu dan kau sendiri sudah cantik, bahkan semua murid laki-laki menyukaimu, dan kau juga baik.”
Yuki        : (tersipu) “Aku tidak begitu, suaraku masih tak bagus. Aku pikir masih butuh kursus lagi dan aku ingin mencoba ikut audisi untuk masuk agency.”
Mayu    : (tersenyum ceria) “Semoga beruntung. Aku pikir kau tak butuh waktu lama untuk debut, ya kan?” (bertanya pada yang lain)
Jurina    : “Aku pikir begitu. Kau berbakat, Yuki.”
                Atsuko, Yuko dan Mayu dengan yakin mengangguk tanda setuju pada pernyataan Jurina. Mayu yang antusias pun bahkan mengangguk berkali-kali.
Jurina    : (menatap dengan sedih) “Aku ingin tumbuh dewasa bersama kalian. Melihat kalian meraih impian-impian kalian.”
                Yang lain serentak ikut meratap sedih. Mereka tau tentang penyakit Jurina. Waktu kebersamaan mereka tak akan lama.
Jurina    : (ceria kembali) “Aku akan mendukung kalian dari sana.” (Sambil menunjuk ke langit)
                Atsuko, Yuko, Mayu dan Yuki masih tampak murung. Mereka padahal tadi seakan lupa pada kenyataan bahwa Jurina tak akan bersama mereka dalam waktu yang lama.
Jurina    : “Hei, jangan sedih. Aku tak ingin waktuku dengan kalian kuisi dengan bersedih. Aku ingin melihat kalian tersenyum dan tertawa bersamaku. Walau aku nanti akan pergi, jangan lupakan aku ya.”
Yuki        : “Aku tak mungkin melupakanmu, kau sahabat baik kami. Kami akan selalu ada untukmu disaat senang maupun sedih.”
Yuko      : (wajah sedih) “Kami akan kehilanganmu.”
Jurina    : “Tidak, aku akan terus bersama kalian dalam kenangan. Maka dari itu, buatlah banyak kenangan indah bersamaku.”
Atsuko  : “Aku...Hiks, ... Me... Nya..Ya...Ngi...Mu.....Hiks, hiks, hiks” (telah terisak dalam tangis)
                Tangis pun pecah, Atsuko menangis kencang, Mayu dan Yuko berusaha tetap tegar sambil menahan air mata mereka tumpah. Yuko yang pertahanan tubuhnya sudah jebol pun sekarang memeluk Jurina sambil terisak.
Yuko      : “Aku... takut...”
Mayu    : (mulai mengangis) “Jangan pergi...”
Jurina    : (air mata mulai menggenang di sudut mata) “Aku masih berada disini.”
                Atsuko, Mayu dan Yuki kini telah bergabung untuk memeluk Jurina sambil menangis.
Yuki        : “Kita akan selalu menjadi sahabat. Kalian adalah sahabat terbaikku.”
Jurina    : “Disetiap pertemuan akan selalu ada perpisahan kan? Aku tak tahu kapan aku akan pergi, tapi aku ingin pergi dengan senyuman. Tak ada yang menangis, aku ingin merasakan bahwa kalian bahagia bersamaku. Di sisa waktuku ini. Aku akan selalu ada di hati kalian, kan?”

                Atsuko, Yuko, Mayu dan Yuki serempak mengangguk dan mulai mengangis lagi di pelukan Jurina. Jurina sekuat tenaga berusah menenangkan sahabat-sahabatnya ini. Ia pun juga berusaha mengendalikan dirinya agar tak ikut menangis juga. Mayu merasa bersalah karena membawa topik impian mereka untuk dibicarakan, ia menangis semakin kencang.

-To be continued-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS