Hai guys, udah lama gak blogging nih.
Baru muncul setelah sekian lama.
Punya banyak cerita yang pengen dishare, tapi lagi belum ketemu waktu yang tepat buat nulis lagi.
Mungkin lagi kena writer's block. FYI nih, aku udah jadi mahasiswi sekarang... wkwkwkwkwk
Cerita masa kuliah pengen banget dishare, tapi adakah yang mau baca?
Tulisan biasa dari seorang mahasiswi biasa-biasa saja...
Anyway, baca aja tulisan aku dibawah ini. Tulisan singkat tentang bagaimana kehidupan gak selalu seperti yang diharapkan. Bukan sesuatu yang spesial sih, tapi bagi aku penting.
Just check this out...!
The Unspoken Words
Instead of judging, why not try to listen a little bit?
Instead of misunderstanding, why not ask first?
Instead of leaving, why not ask me first?
Instead of getting away, why don't understand a little bit?
But...
Instead of asking, I was quiet and...
Hope that you can understand me a little bit,
Listening to my words which can not be heard,
The unspoken one.
That screaming, can not you hear it?
Just try a little bit...
The Unspoken Words
Comments(0)
KEYLOGGER
Apa sih Keylogger itu?
Keylogger adalah aplikasi yang bisa merekam aktifitas pengguna komputer. Berasal dari kata kerja “log”. Orang/program yang melakukan aktifitas log ini namanya “logger”. Sedangkan “logging” berarti adalah istilah untuk kegiatan “merekam” aktifitas log-nya. Yaaah…. bahasa inggris gitu deh. Hehehe..
Banyak metode untuk merekam aktifitas pengguna komputer… Ada yang berdasarkan key stroke (rekaman langsung semua kata yang dipencet di keyboard), ada yang memantau clipboard Windows (yang pake Windows nih..), ada juga keylogger yang secara terang-terangan memiliki interface yang cantik, padahal ternyata menipu. Dan mungkin masih banyak lagi cara-cara “logging” aktifitas pengguna dengan memanfaatkan keylogger. Let's check it out..!
Sebelumnya, ada alasan mengapa saya menulis tentang keylogger ini. Saya mengutip pembicaraan seorang ahli keamanan komputer yang menjelaskan kurang lebih begini:
“Keylogger adalah aplikasi yang bisa merekam password yang di ketik oleh pengguna”.
Pernyataan ini sedikit menggelitik bagi saya. Ya, padahal itu adalah salah satu penerapan dari keylogger! Tapi bukan itu saja yang bisa dilakukan keylogger! Paham?
Tapi karena yang ngomongnya adalah seorang ahli sekuriti, mungkin saya bisa menerima statement beliau diatas itu. Tapi alangkah baiknya kalo menjelaskan kepada orang yang awam komputer itu se-jelas-jelasnya. Jangan sepotong-sepotong. Tapi mungkin jika kita takut mereka orang-orang awam ini malah jadi bingung, bisa gunakan analogi atau ilustrasi ringan, dan gak usah bahas masalah teknisnya… Karena pembodohan masyarakat bisa berasal dari hal-hal kecil seperti ini. Hehehe…
Pertama, mari kita bahas keylogger yang membaca clipboard Windows… Sebagai contoh, kita coba meng-copy kata ini: “s3cr3t_pa5sw0rd”. Copynya dari aplikasi mana saja… Notepad juga boleh lah… Terus setelah kita mengcopy kata tersebut. Silakan ke Start->Run. Dalam input-an isi dengan “clipbrd” dan tekan [ENTER]. Sehingga anda melihat window sebagai berikut:
Binggo, ternyata semua aktifitas copy (sebelum di paste) di taronya di clipbrd toh..?? Hmm… Sudah banyak keylogger yang memonitor clipbrd Windows anda loh. Hati-hati klo PC anda sudah terinfeksi keylogger semacam ini, jangan sekali-kali meng-copy password (ATAU JUGA kata-kata penting lainnya). Karena semua yang anda copy, pasti masuk ke clipbrd…!!
Sekarang contoh selanjutnya: keylogger yang tidak anda sangka-sangka adalah sebuah keylogger… Hehehe… Inilah dia, aplikasi kecil buatan saya waktu masih pintar ngoding (hahaha). Aplikasi lucu ini secara sepintas seperti aplikasi ramalan cinta biasa. Tapi dibalik itu semua, saya sudah menanamkan keylogger di inputannya. Aplikasinya bisa dilihat seperti ini:
Simple ‘kan? Dan anda mestinya langsung ngerti… (Tombol “PORTEND” maksudnya “RAMAL”)
Sebagai contoh, saya masukan nama JOKO sebagai sang korban. Si JOKO pertama-tama saya yakinkan bahwa nama cewe yang dia taksir ga akan ketahuan. Soalnya lihat aja tuh, input yang dimasukkannya disembunyikan pake karakter (*). Ya ‘kan?
Joko percaya-percaya aja sama saya. Dia kemudian memasukkan nama cewe yang dia taksir ke dalam inputan tsb. Dan… ramalannya mengatakan kecocokan antara JOKO dan si do’I adalah 70,5% euy!! Terlihat wajah Joko yang berseri-seri… Oke sampai sini biarin aja dulu dia senang bahagia hehey… Dan ketika si Joko udah pulang, saya buka deh file hasil rekam aplikasi ini bernama “JOKO.txt”… Inilah dia hasilnya tadaaa…
Nah sekarang anda sudah tau kan apa itu keylogger dalam arti yang sebenarnya?
KEYLOGGER GA HARUS MEREKAM PASSWORD! Ya, rekam apa saja… Tapi ya emang udah barang tentu yang paling enak di rekam adalah yang berharga-berharga seperti password, no kartu kredit, dsb. Untuk itu keylogger lebih sering memantau yang kayak gitu-gitu ketimbang yang kayak gini-gini. Hehehe…
Jangan salah kaprah tentang keylogger. Sedikit aja salah menjelaskan, kasihan ke orang awam… Hehehe
Trip To Japan
22.24 |
Label:
English Dialogue
At Narita Airport
Gilang : Hi, Rizuki-chan. Long time no see, huh?
Elita : Who is she?
Gilang : She is my niece. My aunty married Hiro
Kashiwagi uncle, whose nationality is Japanese and lived at Tokyo.
Rizuki : Hai, sou desu. Watashi no namae wa
Kashiwagi Rizuki desu. Yoroshiku onegaishimasu. Yes, that’s right. My name is
Rizuki Kashiwagi and you call me Rizuki-chan. I’ll be your guide tour here. Nice
to meet you.
All : Nice to meet you, too.
Elda : My name is Elda Winata
Elita : And I am Elita Hanum. Wow, your
English is really good, not as I expected from a Japanese.
Gilang : She is used to speaking in English to
communicate with our whole family and speaking in Japanese with her family and
friends. But she can’t speak in Indonesia. So, just speak in English with her.
All : Oooh…
Elda : Emm, where is our hotel to stay? Is it
far away from here?
Rizuki : It is at Four Seasons Hotel, Tokyo. No, it
is not too far from here.
Gilang : Oh, thanks God. I am exhausted and sleepy,
I really need some sleeps.
Elita : That’s right. It’s a very long air
journey. More than 10 hours.
Rizuki : The car which waited us is over there.
Follow me…!!
At hotel
Rizuki : Your suites are already booked, it is on
presidential suite. Is it okay?
Elita : Oh, that’s okay.
Elda : We’re just check in. Let’s go to our
suites.
Gilang : Wow, I am impress to the hotel’s
decoration, and the facility is complete, too.
Rizuki : Thank’s for your praise, Gilang-kun. See
you tomorrow. Good night.
All : Good night.
At Tokyo
Tower
Gilang : Tokyo Tower is the tallest tower in Japan
and World. Wow, how high it is!
Elda : It is also called Tokyo Sky Tree,
isn’t it?
Elita : Aaa, Musashi. What an amazing tower!
Rizuki : Yes, you are right. With the height of 634
meters or 2.080 ft or called Musashi for 634, it became the tallest structure
in Japan. Tokyo Tower or Tokyo Sky Tree is a
broadcasting, restaurant, and observation tower in Sumida, Tokyo, Japan. Does
anyone know what colour it is?
Elda : White, of course.
Rizuki : You are nearly right. Anyone?
All : Emm???
Rizuki : The exterior lattice is painted a colour
officially called "Skytree White". This is an original colour based
on a bluish white traditional Japanese colour called aijiro. It also have two
illumination patterns Iki (chic, stylish) sky blue and Miyabi (elegance,
refinement) purple will be used, alternating daily. The tower is illuminated
using LED lights.
Gilang : How beautiful! Ouch, I am hungry. Can we
get some foods?
Elita : Oh, I want to eat okonomiyaki.
Elda : How about takoyaki? Sushi? It is
already worldwide, and I want to taste the real Japan taste.
Gilang : How about ramen? Or kare? Like in Naruto
anime.
Rizuki : Wow, wow, calm down. The nearest
restaurant here is Ramen. How about it? We can eat, Kare, Takoyaki,
Okonomiyaki, and Sushi next time.
Elita : Okay, let’s go! Could you show me the
direction?
Rizuki : Just go ahead until the junction and turn
left.
At Restaurant
Gilang : wow, it is really delicious. My stomach is
full. I think I can’t eat again.
Elita : It is because you eat 2 bowl by
yourself. Do you regret it?
Gilang : No, I am not.
Elda : It is because the ramen is really
delicious, isn’t it? Em, Rizuki-san, how do we say that
it is really delicious in Japanese?
Rizuki : Ah, tottemo oishii desu.
All : Tottemo oishii desu.
Rizuki : So, we’re all done eating, right? Let’s go
to Akihabara District.
Gilang : Akihabara? It Is the largest town
collecting all kinds of electronic appliances and devices in the world. The
products at the very top of technology are always abundantly available there.
Elda : Oh, you knew it?
Gilang : Of course, I do really like gadget and
other electronic device.
Rizuki : Here is it. Akihabara Electric Town.
Elita : Wow, it is really crowded here. I can
see so many electronic device’s brand here.
Rizuki : So, how about we go to Don Quijote? It is
more crowded there. We can see many things other than electronic devices like
anime merchandise, figure, and Idol. Many Oota
(anime and manga fans) and Wota (Idol fans) gathered here. We can also
see AKB48 Theater, where AKB48 members as we call Idols perform everyday,
there.
Elita : Wah, I want to watch some show and buy
some souvenirs for my family.
Elda : I want to buy doraemon merchandise,
detective conan merchandise, etc.
Gilang : I want to buy some anime figure like Naruto
and Hatsune Miku. Oh, oh, oh, and some anime DVDs, too.
Rizuki : Okay, let’s go!
After from Don Quijote
Elda : Oh, God. Can’t you just repeat that
story over and over again. I’m getting tired because you repeat it all over
this two hours.
Elita : Just be as usual. You’re so annoying
for about this two hours.
Rizuki : Hahahahaha, you’re so lucky to have an
eyelock and wink from her. She is so famous in Japan.
Gilang : Rizuki-san, where are we
going?
Elita : Are we going to see cherry blossom
tree? Where is it?
Elda : Wow, cherry blossom tree? I just ever
seen it from picture or the fake form
when Chinese New Year.
Rizuki : Yes, we’re going to see the blooming
cherry trees at Shinjuku Gyoen or Shinjuku Park near here.
At Shinjuku Gyoen
Rizuki : Kirei desu, ne? Beautiful, isn’t it?
Elda : Wow, how beautiful! I see many people
picnicking under the blooming cherry trees, and the Somei Yoshino trees despite
their lack of blossoms.
Elita : Some people are even taking siestas in the shade of the trees.
Gilang : It is called Hanami, right? The Japanese’s
tradition to see and picnic under the blooming cherry trees.
Rizuki : You are right. Hanami is a spring festival
that formed from two words. It is ‘’Hana’’ which means ‘’Flower’’ and ‘’Mi’’ or
‘’Mite’’ which means ‘’See or watch’’. So, Hanami means see flowers.
Elita : On Japanese song, I heard that the
blooming cherry trees indicated the graduation of scholars.
Rizuki : Yes, the sakura petals is the analogy of
scholars.
Elda : Then, the fallen sakura petals means
the time of graduation of scholars.
Gilang : In Indonesia, the graduation is on May, but
in Japan, it is on the end of March or the beginning of April.
Rizuki : The graduation here is on the same time
with the blooming cherry tree. There is a tradition on graduation which the
girl asking for the number two button of boy’s uniform. It means the girl
asking for the boy’s heart.
Elita : So, when the boy giving it…
Elda : He accepted the girl’s feeling on him,
right?
Rizuki : Of course…
Gilang : Well, it is such a fun trip today. Let’s go
back to hotel! I am tired.
Elita : Sure it is, I am tired, too.
Elda : Okay, let’s take the train’s next
departure. Thanks for your time to guide us on a trip today. We’re all having
so much fun. See you tomorrow.
Rizuki : You’re welcome. See you tomorrow, guys.
We're On The Same Path
Part 1
Kantung
mataku ini telah bertumpuk menjadi dua semanjak kemarin. Akhirnya hari-hari
tersulit dalam hidupku telah berakhir, UJIAN, yang kuinginkan saat ini hanyalah
tidur di kasurku yang empuk dan tenggelam dalam lautan mimpi indah. Belajar
semalaman beberapas hari ini membuatku lelah tingkat dewa dan juga mengantuk
pastinya, jam tidurku yang biasanya sehari sekitar 11 jam-an hanya menjadi 6
jam per hari.
“Hoam…”,
aku menguap panjang sambil mendesah.
Hari yang
panjang kulewati sudah, dengan sedikit sisa tenagaku yang ada telah kukuras
untuk bercanda dengan teman-teman tadi. Aku pikir dengan tertawa bisa
menghilangkan rasa lelah yang mencekat ini, namun alhasil malah tubuh ini
semakin berat, sampai aku hanya bisa berjalan sempoyongan menuju ke rumah.
Melewati jalanan
kota Seoul di malam hari begitu menenangkan, suasana yang begitu tenang
bagaikan dalam drama yang sering kutonton di televisi. Duduk di bangku taman
yang sepi sambil memandang taburan jutaan bintang di langit. Tak biasanya
langit begitu terang seperti ini, mungkin musin semi akan segera dimulai.
Melihat pemandangan ini setidaknya melupakan sejenak rasa lelah yang
mencengkram kuat ini.
“Ting, ting,
ting…”, suara ringtone handphoneku berbunyi.
Kuangkat telepon
itu enggan karena malas mendengar teriakan-teriakannya yang minta diangkat.
“Hallo ?
Yeoboseyo?”, ucapku lirih dengan sisa sedikit kekuatan.
“Rena ! Nozawa
Rena-chan, lagi ada dimana? Cepat pul…”
“Tut… Tut…”,
kumatikan handphoneku karena risih dengan suara ultrasonik Yoon Nam Joo, adik
sepupuku yang sekarang duduk di bangku
Middle School dan kulemparkan hanphoneku ke samping bangku taman yang tengah
ketempati saat ini. Disampingku duduk seorang lelaki, namun wajah tak terlihat,
tertutupi oleh gelapnya malam.
Ku
ambil handphoneku, lalu aku pun bergegas lari menuju ke Stasiun Kereta Bawah
Tanah Seoul, mengejar jam keberangkatan kereta tercepat selanjutnnya. Jam
menunjukkan waktu pukul 07.00 KST ketika aku telah sampai di rumah. Ya, ini
bukanlah rumahku, namun rumah Om dan Tanteku karena aku memilih untuk sekolah
di Seoul setelah lama tinggal di Aichi, Jepang.
Pilihan
yang sulit karena aku harus meninggalkan orangtuaku dan tinggal disini, tapi
jika aku tetap berada di Jepang aku begitu sendirian, kedua orangtuaku sibuk
bekerja sementara aku hanya ditemani oleh beberapa pembantu. Aku menyayangi
mereka, tapi aku juga ingin belajar mandiri, toh orangtuaku juga mengizinkanku.
“Bruk…
“, aku membiarkan tubuhku ini terhempas ke kasur.
“Aku
harus tidur… Heng, tapi bagaimana dengan proposal kemanusiaanku?, sepertinya
tubuhku ini sudah mengamuk, baiklah, aku akan tidur saja…”, “ Akan kukerjakan
proposal itu besok. Hoam…”, dengan segera aku pun terlena ke dalam mimpi, dan
tak memperdulikan apapun yang akan terjadi besok.
“Tok,
tok, tok, tok….”, “Tok, tok, tok, rena-chan bangun. Nanti kesiangan, sudah jam
08.10, sebentar lagi kamu akan terlambat”, teriak Bibi Moon yang tengah
berusaha keras sejak pagi membangunkanku yang memang susah sekali dibangunkan,
bahkan terkenal sebagai “Late Girl”. Bukan hanya ketika bangun tidur yang
terlambat, tapi juga ketika ada janji dengan teman selalu ngaret.
“Hm,
aku bangun.”, jawabku dengan suara lemah dan tak bertenaga.
Segera
aku pergi mandi dan bersiap ke sekolah. Karena telat, sampai-sampai aku memakan
roti sarapanku dengan menggigitnya sambil membawanya berlari bersamaku dengan
menenteng sepatuku.
Saat
kulirik jam tanganku, betapa kagetnya aku mengetahui bahwa sekarang sudah
hampir jam 08.30. Kupercepat langkah kakiku namun tak berhasil, gerbang sekolah
sudah ditutup dan Pak Kim, penjaga sekolah tak memperbolehkanku masuk. Dengan
kecewa, aku pun berlari menuju tembok belakang sekolah. Aku berniat untuk
memanjat dinding itu lagi.
“Yah,
panjat tembok lagi, jadi Spiderman deh!”, “Ini gara-gara kamu sih, dasar
handphone dodol, kenapa kamu gak bangunin aku, hah?”, kumarahi si handphone
yang malang karena kesal.
“Ting,
tung…”, suara sms masuk.
Aku
melotot melihat handphone ini.
“Lho
ini kan bukan handphone aku, lha trus ini handphone siapa?”, “Ah, ya sudahlah,
akan kuurus nanti saja, sekarang yang penting adalah masuk ke sekolah, oke,
Ganbatte!”,ucapku dengan penuh semangat.
Saat
aku tengah dalam kesulitan memanjat tembok, tiba-tiba terdengar suara.
“Kresek,
kresek..”, suara semak yang tersikap oleh seseorang.
Lalu, muncullah sesosok cowok tampan yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Lalu, muncullah sesosok cowok tampan yang tak pernah kulihat sebelumnya.
“Hei,
apa yang sedang kamu lakukan?”, tanya dengan nada cool abis yang membuat aku
berdecak kagum.
“Hei,
apa kau dengar aku?”, teriaknya sekali lagi. Ia sekarang tengah berada di
samping kaki kiriku yang terjulai karena posisiku sekarang sedang di tengah
tembok.
“Heng,
iya, aku mau masuk…”, teriakannya membuyarkan kekagumanku.
“Oh,
sini aku bantu…!”, tawarnya sambil tersenyum. Senyuman itu begitu mempesona.
Penuh kharisma, namun begitu cool rasanya. Tapi tunggu, ia mengenakan seragam
yang berbeda denganku, itu berarti ia bukan dari sekolahku. Hatiku masih
bertanya tanya.
Tanpa
kusadari, tanganku telah digenggam olehnya. Srrr…. Suara desiran angin
berhembus pelan bersamaan dengan coffeti-cofetti yang meledak menebarkan
bunga-bunga di musim dingin ini. Apa yang terjadi padaku, mengapa aku menjadi
seperti ini, aku bahkan tak mengenalnya. Apakah ini… cinta pada pandangan
pertama? Entahlah, aku tak tahu. Tanpa terasa tubuhku ini sudah berdiri di
samping tembok bagian dalam sekolah.
Aku
memutar kepalaku mencari-cari dimana sosoknya, tapi aku tak dapat menemukannya.
“Kau
dimana?”, tanyaku dalam hati.
Seketika,
aku pun sadar. Aku harus bergegas masuk kelas, sebelum guru datang dan aku
terkena semprotannya.
Beberapa
jam kemudian,
“Ting,
ting, ting…”, suara bel pulang sudah menggema. Aku rasa bunyi bel itu terlalu
kencang, bahkan dengan begitu kerasnya suara itu dapat membuat telinga para
siswa tuli, bahkan bisa memecahkan kaca jendela sekolah.
Aku
pun bergegas akan pulang ketika aku ingat akan handphoneku yang tertukar.
“Apakah
mungkin, tertukar saat di taman, ya?”,”Mungkin saja”.
Aku
pun mencoba menelpon handphoneku.
“Beep,
beep, beep, beep…”, suara tunggu sambungan telpon.
“Yeoboseyo!
Ada yang bisa saya bantu?”, terdengar suara jawaban dari sana.
“Maaf,
saya ingin memberi tahu bahwa handhone kita tertukar. Sekali lagi maaf atas
kesalahan saya”, aku terus meminta maaf sambil membungkuk seperti yang
diajarkan adikku.
“Hei,
kau kenapa lama sekali baru menelponku, aku sudah menunggu untuk kau meminta
aaf padaku dan mengembalikan handphoneku itu”,jawabnya dengan ketus yang
membuat emosiku berubah.
“Oh, maafkan aku. Bagaimana kalau aku mengembalikannya sekarang. Aku sedang berada di depan Serin High School. Anda ada dimana, aku akan kesana.”
“Oh, maafkan aku. Bagaimana kalau aku mengembalikannya sekarang. Aku sedang berada di depan Serin High School. Anda ada dimana, aku akan kesana.”
“Baiklah,
aku sedang ada di Café Prince, Hongdae. Kemarilah, aku tunggu. Awas kau jika
sampai tidak datang dan membawa kabur handphoneku”.
“Iya,
tunggu sebentar. 15 menit lagi aku akan sampai”.
Sesampainya
disana, aku kesulitan mencari dimana sosoknya. Aku pun berinisiatif untuk
menelponnya sambil mencari sosoknya. Ya, itu dia. Pria tampan dengan seragam
sekolah. What? Ia masih anak sekolah. Tapi dia cukup tampan, hei apa yang
sedang aku pikirkan. Dia pemarah. Aku pun menghampirinya,
“Maaf
sudah menunggu…”, sapaku dengan kepala tertunduk.
“Hei,
ku tahu aku sudah menunggu begitu lama. Kenapa kau terlambat? Apa kau tidak
tahu bahwa aku sedang sibuk. Sudahlah, mana handphoneku.”, ia mengulurkan
tangannya.
“Iya,
maafkan aku sekali lagi. Ini dia..”, jawabku sambil menunjukkan handphone yang
sedari tadi kukantongi.
Ia
pun langsung menyahut handphonenya kemudian ia menoleh padaku.
“Hei,
siapa namamu? Aku Kang Kyung Joon”, ia bersuara dengan suara yang begitu cool
padahal dari tadi ia mengomeliku, bahkan sambil tersenyum manis.
“A,
aku Nozawa Rena”, ucapku lirih sambil tersenyum karena aku melihat ekspresinya
bisa berubah begitu cepat.
“Oh,
kau orang jepang. Tapi kau cukup cantik”, katanya sambil melirikku dari ujung
kepala sampai kaki.
“Iya,
maaf sepertinya aku harus pergi”, pamitku pulang.
“Hei,
tunggu dulu. Bagaimana kalau sebagai permintaan maaf kau menjadi pacarku?”
“Haaaaa….?!?!?”,
mulutku masih menganga dan otakku masih mencerna perkataannya. Cowok yang aneh,
baru kenal saja sudah mengajak pacaran. Apa ia sudah gila? Tapi bukankah ia
cowok yang begitu mempesona, jika cewek lain menjadi aku pastilah sudah
menerima dengan senang hati. Tapi aku bukan mereka, aku ingin menolak, tapi
sebelum itu terjadi…
“Hei,
aku tak butuh kata Ha darimu, yang kubutuhkan adalah jawaban Ya. Baiklah,
karena kau diam saja, akan kuanggap itu jawaban Ya”, katanya membuyarkan
lamunanku.
“Tapi,
tapi…”
“Ah,
sudah. Aku tidak menerima kata Tidak darimu”
“Tapi,
tapi, tapi…”, aku ingin memberontak saat ia mulai menarikku keluar dari Café,
tapi entah kenapa tubuh ini menurut saja. Sepertinya tubuhku ini tidak sinkron
dengan otakku. Sial.
“Kau
mau pulangkan? Ayo, aku antar”, ia menyeretku ke parkiran sepeda motor. Dan
Wow, sepeda motornya begitu keren. Aku sampai melongo melihatnya.
“Ayo
cepat naik”, katanya dengan kasar padaku.
“Iya”
“Hei,
awas kau kalau sampai memelukku dari belakang”, godanya.
Ih,
memangnya siapa yang mau memelukmu dari belakang. Kemudian aku pun mulai bingung,
dimana aku harus berpegangan. Di motor ini tidak ada pegangan seperti motor
biasa. Aku pun dengan terpaksa berpegangan pada jaket kulit yang ia kenakan.
Namun
tak kusangka, ia begitu gila. Apa ia sudah mau mati? Ia membawaku dengan
kecepatan luar biasa, 150 km/jam. Ia sebenarnya pembalap atau Gimana? Tak
berhenti aku berfikir hingga ia memberhentikan motornya secara mendadak yang
otomatis membuatku terdorong ke depan dan secara refreks memeluknya dari
belakang.
“Hei,
cepat turun…! Dan sudah kubilang jangan memelukku, kenapa kau tetap
memelukku?”, katanya dengan kasar.
“Hei,
aku tidak memelukmu, ini juga karena kau mengerem mendadak.”, bantahku tidak
kalah ketus.
Aku
pun segera turun dari motornya itu dan segera masuk ke rumah. Ia pun segera menutup kaca helmnya kemudian melesat
entah kemana dengan cepat. Aku masih terpaku pada pikiranku. Masih bingung
dengan kejadian hari ini, aku pun berjalan sambil melamun menuju ke kamar.
Masih
memikirkan kejadian tadi, aku mulai marah.
“Hei,
kenapa aku tadi diam saja ketika dia menyeretku? Jadi, apakah aku dan dia
jadian? Apa? Aku dan dia, si pemarah itu… Oh My God? Apa yang baru saja
kulakukan? “, “Tapi aku tidak mencintainya, bagaimana ini?”, belum sempat aku
melanjutkan pikiranku, Nam Joo memanggilku dengan suara manja + aegyonya.
“Onee-chan,
Eonni, Rena-chan, sedang apa? Ayo makan…!”, ajaknya dengan gaya sok manis yang
membuatku eneg.
“Iya,
sebentar lagi”
“Eonni,
Eomma dan Appa sudah menunggu. Ngomong-ngomong cowok yang tadi nganter Eonni
puan siapa? Kog cakep banget, mau dong dikenalin… Pacarnya Eonni, ya?”,
godanya.
“Eh,
siapa? Bukan siapa-siapa… Ayo makan…!”, jawabku mengalihkan perkataannya sambil
menyeretnya keluar dari kamarku.
Setelah
makan malam, aku pun segera masuk ke kamar lagi untuk belajar. Sekitar jam
09.30 aku selesai belajar. Aku pun beranjak tidur dan menarik bed coverku
hingga menutupi seluruh tubuhku, hingga saat aku hampir terlelap dalam tidur,
handphoneku pun berdering dengan keras. Menjerit-jerit minta segera diangkat
dan mengakhiri penderitaannya.
Dengan
malas, aku pun meraba-raba meja di samping tempat tidurku. Aku mengerjapkan
mata, kemudian meraih handphone yang sedari tadi menyiksaku.
“Halo?
Yeoboseyo? Ini siapa sih ganggu tidur orang”, bentakku tanpa melihat layar
siapa yang sedang menelpon.
“Hei,
kenapa kau marah padaku? Harusnya aku yang marah karena kau lama sekali
mengangkat telpon”, jawabnya dengan suara yang terdengar marah. Suara ini suara
yang sepertinya kukenali, ya, ini adalah suara si pemarah, Kyung Joon.
“Iya
ada apa? Oh, ya aku baru ingat. Darimana kau tahu alamat rumahku?”
“Ya
tahulah, dari handphonemu…”
“Oh,
heh, kenapa kau menelponku malam-malam begini. Kau mengganggu tidurku”
“Aku
hanya mau bilang, besok aku jemput. Bye”, dengan segera ia menutup telponnya dan
yang tersisa hanya aku yang masih bingung dengan kelakuannya. Malam-malam
menelpon hanya untuk bilang bahwa besok akan menjemput, itu pun dengan
marah-marah.
Keesokan
harinya,
“Aku
berangkat…”, teriakku dari luar rumah kepada Bibi Moon.
“Ciiit……………….”,
suara rem super dadakan mengacaukan pikiranku.
“Naik!”,
katanya dengan stay cool. Aku masih terbingung dengan semuanya, dan menganggap
kejadian kemarin hanyalah mimpi kini harus frustasi karena hal yang kuinginkan
sebagai mimpi ternyata adalah sebuah kenyataan. OMG, kapan hal ini kan
berakhir. Aku berusaha kabur dengan berlari sekencang-kencangnya, namun apadaya
dengan kecepatan lariku ini, aku keburu tertangkap olehnya. Dengan lemas dan
pasrah aku pun naik motor super keren tersebut, dan tanpa kusangka-sangka
segera beberapa detik setelah aku duduk, ia langsung menancap gas dan sukses
membuatku kaget, dan jantungan, eh dan jangan lupa hampir jatuh juga, untung
saja aku langsung berpegangan pada pinggangnya agar aku tak terjatuh. Eitts,
tunggu dulu, apakah tadi aku bilang aku sedang memegang pinggangnya. WHAT!!!! Aku
pun segera tersadar dan segera melepaskan peganganku.
Aku
pun tiba di sekolah dengan selamat, bisa gila aku jika terus-terusan
bersamanya, setiap nyawaku terbang satu ketika naik motornya. Aku hanya bisa
berdecak. Setibanya di sekolah pun aku segera di buru dengan tatapan kaget,
bingung, tak percaya, shock, dan penuh tanda tanya dari semua orang, bahkan tak
terkecuali Pak Kim.
Beberapa
murid cewek mulai bergosip dikejauhan yang terdengar cukup keras bagiku hingga
sekitar 250 meter jauhnya. Mereka mulai bertanya-tanya siapakah cowok keren
yang mengantarku tadi. Sebagian dari mereka menganggap bahwa cowok itu adalah
pacarku, namun yang lainnya menganggapku……….
- To be continued -
Goodbye, My Love
Part 1
“Nana
nana, nana nana yeah, you are the music in me…”, terdengar suara dering sms
dari Hpku. Segera kuraih HP yang berada di meja belajar dengan susah payah.
Terlihat nama “Chiku” di layar dan dengan penuh semangat aku pun membuka sms
tersebut.
“Sibuk?
Ayo ke rumah Yoon Se Kyung!”
“Hah,
ngapain… tugas dari sekolah masih banyak, gak ingat?”, balasku dengan cepat .
“Ayolah,
main sambil ngerjain tugas, kan nanti disana kamu bisa nanya-nanya ke dia”
“Oh…
hmmm, eh, emangnya mau kesana kapan?”
“Sekaranglah”
“What???
Ini kan udah siang…”, kagetku melihat jawabannya itu.
“Ya
biarin, ayo dong?”, dari nada smsnya terlihat begitu bersemangat dan memelas,
aku tidak tega menolak ajakan itu. Lagi pula dia orang yang kusuka sejak kelas
1 Middle School. Tapi ada yang aneh darinya, tak biasanya ia sms-an denganku.
Ia bahkan jarang sekali mengirim sms kepadaku. Apakah terjadi sesuatu? Aku
terus memutar otak mencari jawaban dari semua ini sampai…
“Hoi,
ayo dong, Rena, Nozawa Rena! Biar gak kesorean…”, balasan smsnya mengagetkanku
dan mengacaukan pikiranku.
“Oh,
iya ayo, tapi aku ajak Matsui Himawari dan Shin Ha Young, ya?”
“Oke…
cepetan, eh, aku nebeng kamu ya…!”
Aku
pun segera pergi mandi dan bersiap-siap, tak lupa aku sms Hima-run dan Yoongi,
panggilan kesayanganku pada Matsui Himawari dan Shin Ha Young.
Setelah
siap, aku pun segera melesat membawa sepeda motorku itu ke rumah Chiku dulu, eh
Min Ho maksudnya. Namun karena salah sms, aku pun di tengah jalan dirundung
kebingungan, antara menjemput Hima-run dulu atau langsung ke rumah Min Ho.
Bingung memilih cinta atau sahabat.
Atas
nama sahabat pun, aku segera menjemput Hima-run dulu kemudian ke Rumah Min Ho.
Sesampainya disana, aku segera menelpon Yoongi, agar ia langsung ke rumah Min
Ho karena aku sudah menjemput Hima-run. Setelah menutup telepon, aku dan
Hima-run pun baru menyadari bahwa warna baju kami bertiga adalah merah.
“Wah
kita seperti mau demo saja ya…?”, candaku.
Setelah
itu dataglah Yoongi dengan wajah marah namun tetap terlihat calm. Ia memarahiku
yang plin-plan ini. Aku pun segera menyudahi pertengkaran ini, dan mengajak
untuk segera ke rumah Se Kyung. Semuanya pun mengiyakan.
Rumah
Se Kyung ada di pinggir kota Busan, Korea Selatan. Sebuah desa dengan
pemandangan alam yang indah dan juga ada kebun, serta bukit. Kami pergi kesana
dengan aku bersama Min Ho berboncengan berdua, dan Hima-run bersama Yoongi juga
berdua.
Aku
dan Min Ho memimpin jalan dengan berada di depan, sementara Hima-run dan Yoongi
ada di belakang kami. Sepanjang perjalanan aku terus saja diam, dan hanya
berbicara saat ia bertanya. Aku begitu deg-degan berada di belakangnya. Dalam
hatiku sudah bertebaran bunga-bunga dan juga coffeti yang meletup-letup. Aku
hanya bisa diam tanpa kata, takut salah bicara dan juga salah tingkah
dibuatnya, karena sudah diketahui bahwa ketika aku bersamanya rasanya hati dan
otakku ini tidak sinkron, yang membuatku sulit untuk berkata-kata.
Hima-run
dan Yoongi yang berada di belakangku pun hanya bisa tertawa cekikikan
melihatku. Bahkan Hima-run mengirimiku sms.
“Rena-chan,
kamu kog gak pegangan sih, nanti jatuh lho. Pegangan saja ke pinggang Min Ho :P
“
“Kurang
ajar”, balasku singkat dengan tersenyum pada merka berdua.
Di
perjalanan, aku hanya bisa memaki dirimu. Kenapa aku diam? Kenapa aku seperti
ini? Aduh, apa yang harus aku lakukan? Kapan penderitaan ini akan berakhir?
Sekitar satu jam bersamanya serasa begitu lama seperti kecepatan bumi berputar
menurun drastis dan hanya kami berdua yng terjebak di dalamnya, mungkin karena
aku terlalu gugup bersamanya. Karena ini adalah momen yang paling aku inginkan
selama ini dari banyak sekali harapanku di wishlist.
Sesampainya disana, kami pun disambut dengan ramah oleh orangtua Se Kyung, akum pun masih tak bisa merasakan atmosfir yang sepertinya mulai berubah merah muda. Sikap seperti biasa, itulah yang kurasakan. Semua berjalan seperti biasa, kami mulai belajar. Sampai kemudian,
Sesampainya disana, kami pun disambut dengan ramah oleh orangtua Se Kyung, akum pun masih tak bisa merasakan atmosfir yang sepertinya mulai berubah merah muda. Sikap seperti biasa, itulah yang kurasakan. Semua berjalan seperti biasa, kami mulai belajar. Sampai kemudian,
“Hahaha,
lucu banget sih kejadian itu”, kataku sambil menahan tawa pada Yoongi.
Aku
pun segera menyudahi tawaku dan fokus pada setumpuk PR yang sedang di depan
mata. Aku melirik kepada Min Ho yang kupikir tak menepati janjinya padaku
karena ia tidak kunjung mengajariku PR yang begitu sulit ini. Aku pun hanya
bisa mendesah dan mengeluarkan eye smirk.
Kemudian,
tanpa kusangka-sangka, atmosfir tiba-tiba berubah, serasa aku ada di dunia
fantasi yang begitu indah. Ya, dunia seperti di dongeng Alice In Wonderland.
Namun sayang, dunia ini bukan milikku, saat aku melihat mereka berdua, aku
merasakan ada yang membisikkan sesuatu padaku.
“Kau
lihat, kau hanya pengganggu. Kau bukan siapa-siapa. Ku tak pantas untuknya.
Lihat mereka, begitu serasi bukan?”, ia berbisik tepat di telingaku kemudian
tertawa seperti devil yang telah menang perang.
Saat
kutoleh ke belakang yang kudapat hanya kehampaan, tak ada siapa-siapa di
belakangku. Dan beberapa detik kemudian aku pun tersadar bahwa itu hanya ilusi,
hanya imajinasiku. Aku selalu berfikir bahwa aku tertalu banyak mempunyai
imajinasi sehingga terkadang aku hidup dalam mimpi dan merasa bahwa diriku
telah tenggelam kedalamnya. Itu karena aku pikir bahwa aku sudah begitu nyaman
di dalamnya, begitu gembira, membangun ceritaku sendiri seperti dalam dongeng.
Hidup di dunia mimpi itulah diriku.
Ku
lihat Min Ho dan Se Kyung begitu nyaman ketika mereka bersama, begitu serasi.
Tapi apakah kisah ini akan berakhis=r sampai disini? Belum, ini masih prolog.
Ketika
kami belajar, tiba-tiba Seo Young, adik Se Kyung menggangu kami. Terlihat dari
auranya, ia begitu cerah, seperti sedang jatuh cinta. Tai bukankah ia masih Elementary
School. Ah, sepertinya tebakanku meleset lagi. Kemudian ketika Min Ho
menyuruhnya untuk memakai syal agar terlihat cantik, aku begitu heran. Secepat
kilat ia segera masuk ke kamarnya kemudian keluar bersama sehelai syal cantik
di tangannya. Ia pun dengan manja meminta Se Kyung untuk membantu untuk
mengenakannya. Wah, sepertinya tebakanku kali ini benar. Ini buktinya. Lagi
pula dulu ketika aku dan teman-teman ke rumah Se Kyung, kemudian salah satu
temanku Yoon Ha mencoba mengejek Seo Young bahwa Seo Young menyukai Min Ho.
Lucunya Seo Young kemudian langsung menangis, sepertinya begitu banyak yang
menyukai Min Ho. Aku sendiri penasaran apa kelebihannya shingga dapat memikat
banyak hati seperti ini.
Karena
lelah setelah belajar, Se Kyung mengusulkan untuk mengajak kami pergi melihat
Buragu, sebuah bukit kecil nan indah. Kami pun kompak setuju dan langsung cabut
ke sana. Seperti keadaan awal saat berangkat ke rumah Se Kyung, Hima-run
bersama Yoongi, Se Kyung bersama Seo Young, dan Min Ho bersamaku. Perjalanan
tak begitu jauh, tapi aku pikir perjalanan ini terasa begitu lama. Lagi, kenapa
seperti ini lagi, apakah aku benar-benar telah menyukainya? Tapi bukankah
pepatah mengatakan bahwa “Jika bersama orang yang kita sukai maka 1 hari terasa
1 jam, dan 1 jam terasa 1 detik”. Namun, kenapa aku malah merasa bahwa waktu
semakin lama ketika aku bersamanya. Jadi, apakah aku menyukainya? Berkali-kali
aku coba untuk bertanya pada hatiku ini, tapi ia masih tak menjawab. Ia justru
tertawa mendengar pertanyaanku. Ia sendiri malah balik bertanya,
“Ck,
sekarang aku tanya apa yang kaurasakan? Aku rasa itulah jawabannya”, balasnya
dengan nada sok bijak.
Jalanan
di penuhi pohon-pohon, namun terlihat begitu cantik, indah, moodku hari ini
benar-benar sedang bagus. Kemudian, sampailah kami di Buragu. Tematnya begitu
indah, rindang, tapi aku, Yoongi dan Hima-run kompak berkata,
“Tempat
ini indah, tapi tak sebagus Kebun Teh, ehm so sweet…”
- To be continued-
Sakura's Memories on Spring
Part 1
Pagi
yang cerah, udara mulai terasa hangat. Pertanda musim semi akan segera tiba.
Angin lembut yang membelai wajah cantik Atsuko membuatnya tergoda untuk
memejamkan mata sebentar meresapi ketenangan yang ia rasakan di bangku taman
kota. Ketika matanya mulai terpejam, segala pikirannya mulai lepas dari
kepalanya. Ia akan mulai tertidur ketika tiba-tiba ia merasakan ada seseorang
yang menepuk bahu kirinya dengan pelan. Atsuko pun tersentak dan dengan reflek
menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang mengganggunya menikmati pagi
yang cerah ini.
Ketika
Atsuko menoleh, telah didapati olehnya seorang gadis cantik bermata coklat
dengan rambut hitam lurus yang panjang menatapnya dengan senyum tersungging di
bibirnya. Dialah orang yang telah nantikan oleh Atsuko.
Atsuko : (dengan wajah
sebal) “Kau terlambat, aku sudah menunggumu lama sekali sampai bosan dan hampir
tertidur, kau tau?”
Yuko : (masih
dengan tersenyum senyum) “Maafkan aku ya, tadi malam aku begadang dan baru
tidur jam 4 pagi sehingga inilah yang terjadi. Aku bangun terlambat. Jangan
marah padaku,ya?”
Yuko
berusaha membujuk Atsuko agar ia tak marah padanya karena ia datang terlambat
untuk bertemu dengannya.
Yuko : (tersenyum
geli) “Kau marah padaku?”
Atsuko : (masih marah)
“Aku? Marah padamu? Mana mungkin?”
Yuko :
(menggosok-gosok kedua tangannya sambil memohon) “Ayolah, jangan marah. Aku kan
gak cuma datang terlambat sekali. Eng, berapa kali ya...?” (berpikir)
Atsuko : (masih dengan
sinis) “Berkali-kali, bahkan terlalu sering sehingga membuatku lelah menunggu
terus”
Yuko : (memaksa
Atsuko untuk menoleh padanya) “Hei, ini juga bukan salahku seutuhnya. Kau tahu
tugas skripsi ini membuatku hampir gila. Kau tau kan, aku tukang tidur. Dan apa
jadinya si tukang tidur ini ketika mendapat jam tidur yang sangat sedikit
karena skripsi. Ayolah, kau mengerti aku kan?”
Atsuko : (datar) “Hmmmm....”
Yuko : (memandang
Atsuko dengan menunjukkan mata tak berdosa seperti anak kecil) “ Ya, ya, ya,
ya???? Aku benar-benar menyesal. Aku berjanji akan mecoba tepat waktu lain
kali. Lagi pula apa alasanmu mengajakku bertemu hari ini. Ada apa?”
Atsuko
menghela nafas dengan berat. Seperti inilah ia, ia tak pernah betah
berlama-lama marah pada sahabatnya yang satu ini. Mereka telah bersahabat baik
sejak SMA dan masih bersahabat sampai mereka kuliah seperti sekarang. Dengan
berat hati, Atsuko mulai mengesampingkan perasaan kesalnya ini.
Atsuko : “Baiklah, aku
memaafkanmu. Lain kali jangan kau ulangi, atau aku akan benar-benar marah. Aku
ingin memberitahumu tentang reuni kunjungan kita ke pemakaman Jurina bersama
yang lain. Jangan bilang kau lupa?”
Yuko : “Oh, itu.
Aku tak lupa. Kita berkumpul dengan yang lain kapan?”
Atsuko : “Besok, jam 9
pagi di Halte Bis dekat Universitas. Jangan terlambat, mereka akan marah besar
padamu.”
Yuko : “Baiklah,
apa ada hal yang harus aku lakukan?”
Atsuko : “Jangan lupa
bawa bunga Lily kesukaannya dan juga oleh-oleh untuk Paman dan Bibi Matsui. Aku
ingin memastikan bahwa kau tak lupa dan tak terlambat sehingga aku juga kena
omel yang lainnya.”
Yuko : “Baiklah,
kalau begitu sampai besok. Hoammm.... Aku mengantuk sekali, aku pikir aku akan
tidur panjang hari ini. Dah....”
Yuko
pun beranjak bangkit dari kursi taman itu, melambai pada Atsuko dan bergegas
pulang ke apartemennya. Atsuko memandang kepergian Yuko dan mulai melamun. Ia
teringat akan sahabatnya, Jurina yang telah pergi meninggalkan mereka pada
kelas 3 SMA. Ia pergi meninggalkan duka
mendalam bagi keluarga dan para sahabatnya. Ia sakit-sakitan sejak kecil dan
bertambah para ketika ia menginjak dewasa. Namun, ia pergi dengan senyuman, ia
sudah mempersiapkan diri akan hal ini.
Atsuko
teringat kenangan berberapa tahun lalu, ketika ia masih duduk di bangku kelas 2
SMA. Saat itu musim semi, bunga-bunga sakura yang mekar mulai gugur. Hari itu
adalah hari kelulusan kakak kelas mereka dan setelah selesai dilaksanakannya
upacara kelulusan, Atsuko, Yuko, Mayu, Yuki dan Jurina bergegas keluar dari
Aula Sekolah menuju halaman sekolah dimana pohon-pohon sakura disana mulai
berguguran dengan indah. Mereka bermain-main dan bersantai di bawah pohon
sakura yang paling besar, yaitu yang berada di tengah halaman.
Mayu : “Jika kita
lulus nanti kalian akan melanjutkan kemana? Kalian ingin jadi apa?”(bertanya
dengan penasaran sambil memandang satu persatu sahabatnya)
Atsuko : “ Aku ingin
ke Universitas Tokyo, tapi aku ingin menjadi aktris.”
Yuko : “Wah, kita
sepertinya sama. Kau akan menjadi musuhku kalau begitu. Aku ingin menjadi
aktris yang mewakili Jepang.”
Mayu : “Sepertinya
kalian akan bersaing ketat. Kalian dari agency yang berbeda kan? Aku pikir akan
terjadi permusuhan dalam persahabatan. Ini menarik.”
Yuki : ”Aku
ingin menjadi penyanyi.”
Mayu : “Aku pikir
itu cocok untukmu, suaramu merdu dan kau sendiri sudah cantik, bahkan semua
murid laki-laki menyukaimu, dan kau juga baik.”
Yuki : (tersipu)
“Aku tidak begitu, suaraku masih tak bagus. Aku pikir masih butuh kursus lagi
dan aku ingin mencoba ikut audisi untuk masuk agency.”
Mayu : (tersenyum
ceria) “Semoga beruntung. Aku pikir kau tak butuh waktu lama untuk debut, ya
kan?” (bertanya pada yang lain)
Jurina : “Aku pikir
begitu. Kau berbakat, Yuki.”
Atsuko,
Yuko dan Mayu dengan yakin mengangguk tanda setuju pada pernyataan Jurina. Mayu
yang antusias pun bahkan mengangguk berkali-kali.
Jurina : (menatap
dengan sedih) “Aku ingin tumbuh dewasa bersama kalian. Melihat kalian meraih
impian-impian kalian.”
Yang
lain serentak ikut meratap sedih. Mereka tau tentang penyakit Jurina. Waktu
kebersamaan mereka tak akan lama.
Jurina : (ceria
kembali) “Aku akan mendukung kalian dari sana.” (Sambil menunjuk ke langit)
Atsuko,
Yuko, Mayu dan Yuki masih tampak murung. Mereka padahal tadi seakan lupa pada
kenyataan bahwa Jurina tak akan bersama mereka dalam waktu yang lama.
Jurina : “Hei,
jangan sedih. Aku tak ingin waktuku dengan kalian kuisi dengan bersedih. Aku
ingin melihat kalian tersenyum dan tertawa bersamaku. Walau aku nanti akan
pergi, jangan lupakan aku ya.”
Yuki : “Aku tak
mungkin melupakanmu, kau sahabat baik kami. Kami akan selalu ada untukmu disaat
senang maupun sedih.”
Yuko : (wajah
sedih) “Kami akan kehilanganmu.”
Jurina : “Tidak, aku
akan terus bersama kalian dalam kenangan. Maka dari itu, buatlah banyak
kenangan indah bersamaku.”
Atsuko : “Aku...Hiks,
... Me... Nya..Ya...Ngi...Mu.....Hiks, hiks, hiks” (telah terisak dalam tangis)
Tangis
pun pecah, Atsuko menangis kencang, Mayu dan Yuko berusaha tetap tegar sambil
menahan air mata mereka tumpah. Yuko yang pertahanan tubuhnya sudah jebol pun
sekarang memeluk Jurina sambil terisak.
Yuko : “Aku...
takut...”
Mayu : (mulai
mengangis) “Jangan pergi...”
Jurina : (air mata
mulai menggenang di sudut mata) “Aku masih berada disini.”
Atsuko,
Mayu dan Yuki kini telah bergabung untuk memeluk Jurina sambil menangis.
Yuki : “Kita
akan selalu menjadi sahabat. Kalian adalah sahabat terbaikku.”
Jurina : “Disetiap
pertemuan akan selalu ada perpisahan kan? Aku tak tahu kapan aku akan pergi,
tapi aku ingin pergi dengan senyuman. Tak ada yang menangis, aku ingin
merasakan bahwa kalian bahagia bersamaku. Di sisa waktuku ini. Aku akan selalu
ada di hati kalian, kan?”
Atsuko,
Yuko, Mayu dan Yuki serempak mengangguk dan mulai mengangis lagi di pelukan
Jurina. Jurina sekuat tenaga berusah menenangkan sahabat-sahabatnya ini. Ia pun
juga berusaha mengendalikan dirinya agar tak ikut menangis juga. Mayu merasa
bersalah karena membawa topik impian mereka untuk dibicarakan, ia menangis
semakin kencang.
-To be continued-
Langganan:
Postingan (Atom)
















