Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

We're On The Same Path

                                                                      Part 1

             Kantung mataku ini telah bertumpuk menjadi dua semanjak kemarin. Akhirnya hari-hari tersulit dalam hidupku telah berakhir, UJIAN, yang kuinginkan saat ini hanyalah tidur di kasurku yang empuk dan tenggelam dalam lautan mimpi indah. Belajar semalaman beberapas hari ini membuatku lelah tingkat dewa dan juga mengantuk pastinya, jam tidurku yang biasanya sehari sekitar 11 jam-an hanya menjadi 6 jam per hari.
                “Hoam…”, aku menguap panjang sambil mendesah.
Hari yang panjang kulewati sudah, dengan sedikit sisa tenagaku yang ada telah kukuras untuk bercanda dengan teman-teman tadi. Aku pikir dengan tertawa bisa menghilangkan rasa lelah yang mencekat ini, namun alhasil malah tubuh ini semakin berat, sampai aku hanya bisa berjalan sempoyongan menuju ke rumah.
Melewati jalanan kota Seoul di malam hari begitu menenangkan, suasana yang begitu tenang bagaikan dalam drama yang sering kutonton di televisi. Duduk di bangku taman yang sepi sambil memandang taburan jutaan bintang di langit. Tak biasanya langit begitu terang seperti ini, mungkin musin semi akan segera dimulai. Melihat pemandangan ini setidaknya melupakan sejenak rasa lelah yang mencengkram kuat ini.
“Ting, ting, ting…”, suara ringtone handphoneku berbunyi.
Kuangkat telepon itu enggan karena malas mendengar teriakan-teriakannya yang minta diangkat.
“Hallo ? Yeoboseyo?”, ucapku lirih dengan sisa sedikit kekuatan.
“Rena ! Nozawa Rena-chan, lagi ada dimana? Cepat pul…”
“Tut… Tut…”, kumatikan handphoneku karena risih dengan suara ultrasonik Yoon Nam Joo, adik
sepupuku yang sekarang duduk di bangku Middle School dan kulemparkan hanphoneku ke samping bangku taman yang tengah ketempati saat ini. Disampingku duduk seorang lelaki, namun wajah tak terlihat, tertutupi oleh gelapnya malam.
                Ku ambil handphoneku, lalu aku pun bergegas lari menuju ke Stasiun Kereta Bawah Tanah Seoul, mengejar jam keberangkatan kereta tercepat selanjutnnya. Jam menunjukkan waktu pukul 07.00 KST ketika aku telah sampai di rumah. Ya, ini bukanlah rumahku, namun rumah Om dan Tanteku karena aku memilih untuk sekolah di Seoul setelah lama tinggal di Aichi, Jepang.
                Pilihan yang sulit karena aku harus meninggalkan orangtuaku dan tinggal disini, tapi jika aku tetap berada di Jepang aku begitu sendirian, kedua orangtuaku sibuk bekerja sementara aku hanya ditemani oleh beberapa pembantu. Aku menyayangi mereka, tapi aku juga ingin belajar mandiri, toh orangtuaku juga mengizinkanku.
                “Bruk… “, aku membiarkan tubuhku ini terhempas ke kasur.
                “Aku harus tidur… Heng, tapi bagaimana dengan proposal kemanusiaanku?, sepertinya tubuhku ini sudah mengamuk, baiklah, aku akan tidur saja…”, “ Akan kukerjakan proposal itu besok. Hoam…”, dengan segera aku pun terlena ke dalam mimpi, dan tak memperdulikan apapun yang akan terjadi besok.
                “Tok, tok, tok, tok….”, “Tok, tok, tok, rena-chan bangun. Nanti kesiangan, sudah jam 08.10, sebentar lagi kamu akan terlambat”, teriak Bibi Moon yang tengah berusaha keras sejak pagi membangunkanku yang memang susah sekali dibangunkan, bahkan terkenal sebagai “Late Girl”. Bukan hanya ketika bangun tidur yang terlambat, tapi juga ketika ada janji dengan teman selalu ngaret.
                “Hm, aku bangun.”, jawabku dengan suara lemah dan tak bertenaga.
                Segera aku pergi mandi dan bersiap ke sekolah. Karena telat, sampai-sampai aku memakan roti sarapanku dengan menggigitnya sambil membawanya berlari bersamaku dengan menenteng sepatuku.
                Saat kulirik jam tanganku, betapa kagetnya aku mengetahui bahwa sekarang sudah hampir jam 08.30. Kupercepat langkah kakiku namun tak berhasil, gerbang sekolah sudah ditutup dan Pak Kim, penjaga sekolah tak memperbolehkanku masuk. Dengan kecewa, aku pun berlari menuju tembok belakang sekolah. Aku berniat untuk memanjat dinding itu lagi.
                “Yah, panjat tembok lagi, jadi Spiderman deh!”, “Ini gara-gara kamu sih, dasar handphone dodol, kenapa kamu gak bangunin aku, hah?”, kumarahi si handphone yang malang karena kesal.
                “Ting, tung…”, suara sms masuk.
                Aku melotot melihat handphone ini.
                “Lho ini kan bukan handphone aku, lha trus ini handphone siapa?”, “Ah, ya sudahlah, akan kuurus nanti saja, sekarang yang penting adalah masuk ke sekolah, oke, Ganbatte!”,ucapku dengan penuh semangat.
                Saat aku tengah dalam kesulitan memanjat tembok, tiba-tiba terdengar suara.
                “Kresek, kresek..”, suara semak yang tersikap oleh seseorang.
                Lalu, muncullah sesosok cowok tampan yang tak pernah kulihat sebelumnya.
                “Hei, apa yang sedang kamu lakukan?”, tanya dengan nada cool abis yang membuat aku berdecak kagum.
                “Hei, apa kau dengar aku?”, teriaknya sekali lagi. Ia sekarang tengah berada di samping kaki kiriku yang terjulai karena posisiku sekarang sedang di tengah tembok.
                “Heng, iya, aku mau masuk…”, teriakannya membuyarkan kekagumanku.
                “Oh, sini aku bantu…!”, tawarnya sambil tersenyum. Senyuman itu begitu mempesona. Penuh kharisma, namun begitu cool rasanya. Tapi tunggu, ia mengenakan seragam yang berbeda denganku, itu berarti ia bukan dari sekolahku. Hatiku masih bertanya tanya.
                Tanpa kusadari, tanganku telah digenggam olehnya. Srrr…. Suara desiran angin berhembus pelan bersamaan dengan coffeti-cofetti yang meledak menebarkan bunga-bunga di musim dingin ini. Apa yang terjadi padaku, mengapa aku menjadi seperti ini, aku bahkan tak mengenalnya. Apakah ini… cinta pada pandangan pertama? Entahlah, aku tak tahu. Tanpa terasa tubuhku ini sudah berdiri di samping tembok bagian dalam sekolah.
                Aku memutar kepalaku mencari-cari dimana sosoknya, tapi aku tak dapat menemukannya.
                “Kau dimana?”, tanyaku dalam hati.
                Seketika, aku pun sadar. Aku harus bergegas masuk kelas, sebelum guru datang dan aku terkena semprotannya.
                Beberapa jam kemudian,
                “Ting, ting, ting…”, suara bel pulang sudah menggema. Aku rasa bunyi bel itu terlalu kencang, bahkan dengan begitu kerasnya suara itu dapat membuat telinga para siswa tuli, bahkan bisa memecahkan kaca jendela sekolah.
                Aku pun bergegas akan pulang ketika aku ingat akan handphoneku yang tertukar.
                “Apakah mungkin, tertukar saat di taman, ya?”,”Mungkin saja”.
                Aku pun mencoba menelpon handphoneku.
                “Beep, beep, beep, beep…”, suara tunggu sambungan telpon.
                “Yeoboseyo! Ada yang bisa saya bantu?”, terdengar suara jawaban dari sana.
                “Maaf, saya ingin memberi tahu bahwa handhone kita tertukar. Sekali lagi maaf atas kesalahan saya”, aku terus meminta maaf sambil membungkuk seperti yang diajarkan adikku.
                “Hei, kau kenapa lama sekali baru menelponku, aku sudah menunggu untuk kau meminta aaf padaku dan mengembalikan handphoneku itu”,jawabnya dengan ketus yang membuat emosiku berubah.
                “Oh, maafkan aku. Bagaimana kalau aku mengembalikannya sekarang. Aku sedang berada di depan Serin High School. Anda ada dimana, aku akan kesana.”
                “Baiklah, aku sedang ada di Café Prince, Hongdae. Kemarilah, aku tunggu. Awas kau jika sampai tidak datang dan membawa kabur handphoneku”.
                “Iya, tunggu sebentar. 15 menit lagi aku akan sampai”.
                Sesampainya disana, aku kesulitan mencari dimana sosoknya. Aku pun berinisiatif untuk menelponnya sambil mencari sosoknya. Ya, itu dia. Pria tampan dengan seragam sekolah. What? Ia masih anak sekolah. Tapi dia cukup tampan, hei apa yang sedang aku pikirkan. Dia pemarah. Aku pun menghampirinya,
                “Maaf sudah menunggu…”, sapaku dengan kepala tertunduk.
                “Hei, ku tahu aku sudah menunggu begitu lama. Kenapa kau terlambat? Apa kau tidak tahu bahwa aku sedang sibuk. Sudahlah, mana handphoneku.”, ia mengulurkan tangannya.
                “Iya, maafkan aku sekali lagi. Ini dia..”, jawabku sambil menunjukkan handphone yang sedari tadi kukantongi.
                Ia pun langsung menyahut handphonenya kemudian ia menoleh padaku.
                “Hei, siapa namamu? Aku Kang Kyung Joon”, ia bersuara dengan suara yang begitu cool padahal dari tadi ia mengomeliku, bahkan sambil tersenyum manis.
                “A, aku Nozawa Rena”, ucapku lirih sambil tersenyum karena aku melihat ekspresinya bisa berubah begitu cepat.
                “Oh, kau orang jepang. Tapi kau cukup cantik”, katanya sambil melirikku dari ujung kepala sampai kaki.
                “Iya, maaf sepertinya aku harus pergi”, pamitku pulang.
                “Hei, tunggu dulu. Bagaimana kalau sebagai permintaan maaf kau menjadi pacarku?”
                “Haaaaa….?!?!?”, mulutku masih menganga dan otakku masih mencerna perkataannya. Cowok yang aneh, baru kenal saja sudah mengajak pacaran. Apa ia sudah gila? Tapi bukankah ia cowok yang begitu mempesona, jika cewek lain menjadi aku pastilah sudah menerima dengan senang hati. Tapi aku bukan mereka, aku ingin menolak, tapi sebelum itu terjadi…
                “Hei, aku tak butuh kata Ha darimu, yang kubutuhkan adalah jawaban Ya. Baiklah, karena kau diam saja, akan kuanggap itu jawaban Ya”, katanya membuyarkan lamunanku.
                “Tapi, tapi…”
                “Ah, sudah. Aku tidak menerima kata Tidak darimu”
                “Tapi, tapi, tapi…”, aku ingin memberontak saat ia mulai menarikku keluar dari Café, tapi entah kenapa tubuh ini menurut saja. Sepertinya tubuhku ini tidak sinkron dengan otakku. Sial.
                “Kau mau pulangkan? Ayo, aku antar”, ia menyeretku ke parkiran sepeda motor. Dan Wow, sepeda motornya begitu keren. Aku sampai melongo melihatnya.
                “Ayo cepat naik”, katanya dengan kasar padaku.
                “Iya”
                “Hei, awas kau kalau sampai memelukku dari belakang”, godanya.
                Ih, memangnya siapa yang mau memelukmu dari belakang. Kemudian aku pun mulai bingung, dimana aku harus berpegangan. Di motor ini tidak ada pegangan seperti motor biasa. Aku pun dengan terpaksa berpegangan pada jaket kulit yang ia kenakan.
                Namun tak kusangka, ia begitu gila. Apa ia sudah mau mati? Ia membawaku dengan kecepatan luar biasa, 150 km/jam. Ia sebenarnya pembalap atau Gimana? Tak berhenti aku berfikir hingga ia memberhentikan motornya secara mendadak yang otomatis membuatku terdorong ke depan dan secara refreks memeluknya dari belakang.
                “Hei, cepat turun…! Dan sudah kubilang jangan memelukku, kenapa kau tetap memelukku?”, katanya dengan kasar.
                “Hei, aku tidak memelukmu, ini juga karena kau mengerem mendadak.”, bantahku tidak kalah ketus.
                Aku pun segera turun dari motornya itu dan segera masuk ke rumah. Ia pun  segera menutup kaca helmnya kemudian melesat entah kemana dengan cepat. Aku masih terpaku pada pikiranku. Masih bingung dengan kejadian hari ini, aku pun berjalan sambil melamun menuju ke kamar.
                Masih memikirkan kejadian tadi, aku mulai marah.
                “Hei, kenapa aku tadi diam saja ketika dia menyeretku? Jadi, apakah aku dan dia jadian? Apa? Aku dan dia, si pemarah itu… Oh My God? Apa yang baru saja kulakukan? “, “Tapi aku tidak mencintainya, bagaimana ini?”, belum sempat aku melanjutkan pikiranku, Nam Joo memanggilku dengan suara manja + aegyonya.
                “Onee-chan, Eonni, Rena-chan, sedang apa? Ayo makan…!”, ajaknya dengan gaya sok manis yang membuatku eneg.
                “Iya, sebentar lagi”
                “Eonni, Eomma dan Appa sudah menunggu. Ngomong-ngomong cowok yang tadi nganter Eonni puan siapa? Kog cakep banget, mau dong dikenalin… Pacarnya Eonni, ya?”, godanya.
                “Eh, siapa? Bukan siapa-siapa… Ayo makan…!”, jawabku mengalihkan perkataannya sambil menyeretnya keluar dari kamarku.
                Setelah makan malam, aku pun segera masuk ke kamar lagi untuk belajar. Sekitar jam 09.30 aku selesai belajar. Aku pun beranjak tidur dan menarik bed coverku hingga menutupi seluruh tubuhku, hingga saat aku hampir terlelap dalam tidur, handphoneku pun berdering dengan keras. Menjerit-jerit minta segera diangkat dan mengakhiri penderitaannya.
                Dengan malas, aku pun meraba-raba meja di samping tempat tidurku. Aku mengerjapkan mata, kemudian meraih handphone yang sedari tadi menyiksaku.
                “Halo? Yeoboseyo? Ini siapa sih ganggu tidur orang”, bentakku tanpa melihat layar siapa yang sedang menelpon.
                “Hei, kenapa kau marah padaku? Harusnya aku yang marah karena kau lama sekali mengangkat telpon”, jawabnya dengan suara yang terdengar marah. Suara ini suara yang sepertinya kukenali, ya, ini adalah suara si pemarah, Kyung Joon.
                “Iya ada apa? Oh, ya aku baru ingat. Darimana kau tahu alamat rumahku?”
                “Ya tahulah, dari handphonemu…”
                “Oh, heh, kenapa kau menelponku malam-malam begini. Kau mengganggu tidurku”
                “Aku hanya mau bilang, besok aku jemput. Bye”, dengan segera ia menutup telponnya dan yang tersisa hanya aku yang masih bingung dengan kelakuannya. Malam-malam menelpon hanya untuk bilang bahwa besok akan menjemput, itu pun dengan marah-marah.
                Keesokan harinya,
                “Aku berangkat…”, teriakku dari luar rumah kepada Bibi Moon.
                “Ciiit……………….”, suara rem super dadakan mengacaukan pikiranku.
                “Naik!”, katanya dengan stay cool. Aku masih terbingung dengan semuanya, dan menganggap kejadian kemarin hanyalah mimpi kini harus frustasi karena hal yang kuinginkan sebagai mimpi ternyata adalah sebuah kenyataan. OMG, kapan hal ini kan berakhir. Aku berusaha kabur dengan berlari sekencang-kencangnya, namun apadaya dengan kecepatan lariku ini, aku keburu tertangkap olehnya. Dengan lemas dan pasrah aku pun naik motor super keren tersebut, dan tanpa kusangka-sangka segera beberapa detik setelah aku duduk, ia langsung menancap gas dan sukses membuatku kaget, dan jantungan, eh dan jangan lupa hampir jatuh juga, untung saja aku langsung berpegangan pada pinggangnya agar aku tak terjatuh. Eitts, tunggu dulu, apakah tadi aku bilang aku sedang memegang pinggangnya. WHAT!!!! Aku pun segera tersadar dan segera melepaskan peganganku.
                Aku pun tiba di sekolah dengan selamat, bisa gila aku jika terus-terusan bersamanya, setiap nyawaku terbang satu ketika naik motornya. Aku hanya bisa berdecak. Setibanya di sekolah pun aku segera di buru dengan tatapan kaget, bingung, tak percaya, shock, dan penuh tanda tanya dari semua orang, bahkan tak terkecuali Pak Kim.

                Beberapa murid cewek mulai bergosip dikejauhan yang terdengar cukup keras bagiku hingga sekitar 250 meter jauhnya. Mereka mulai bertanya-tanya siapakah cowok keren yang mengantarku tadi. Sebagian dari mereka menganggap bahwa cowok itu adalah pacarku, namun yang lainnya menganggapku……….

- To be continued -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar