Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Goodbye, My Love

                                                                             Part 1
                 “Nana nana, nana nana yeah, you are the music in me…”, terdengar suara dering sms dari Hpku. Segera kuraih HP yang berada di meja belajar dengan susah payah. Terlihat nama “Chiku” di layar dan dengan penuh semangat aku pun membuka sms tersebut.
                “Sibuk? Ayo ke rumah Yoon Se Kyung!”
                “Hah, ngapain… tugas dari sekolah masih banyak, gak ingat?”, balasku dengan cepat .
                “Ayolah, main sambil ngerjain tugas, kan nanti disana kamu bisa nanya-nanya ke dia”
                “Oh… hmmm, eh, emangnya mau kesana kapan?”
                “Sekaranglah”
                “What??? Ini kan udah siang…”, kagetku melihat jawabannya itu.
                “Ya biarin, ayo dong?”, dari nada smsnya terlihat begitu bersemangat dan memelas, aku tidak tega menolak ajakan itu. Lagi pula dia orang yang kusuka sejak kelas 1 Middle School. Tapi ada yang aneh darinya, tak biasanya ia sms-an denganku. Ia bahkan jarang sekali mengirim sms kepadaku. Apakah terjadi sesuatu? Aku terus memutar otak mencari jawaban dari semua ini sampai…
                “Hoi, ayo dong, Rena, Nozawa Rena! Biar gak kesorean…”, balasan smsnya mengagetkanku dan mengacaukan pikiranku.
                “Oh, iya ayo, tapi aku ajak Matsui Himawari dan Shin Ha Young, ya?”
                “Oke… cepetan, eh, aku nebeng kamu ya…!”
                Aku pun segera pergi mandi dan bersiap-siap, tak lupa aku sms Hima-run dan Yoongi, panggilan kesayanganku pada Matsui Himawari dan Shin Ha Young.
                Setelah siap, aku pun segera melesat membawa sepeda motorku itu ke rumah Chiku dulu, eh Min Ho maksudnya. Namun karena salah sms, aku pun di tengah jalan dirundung kebingungan, antara menjemput Hima-run dulu atau langsung ke rumah Min Ho. Bingung memilih cinta atau sahabat.
                Atas nama sahabat pun, aku segera menjemput Hima-run dulu kemudian ke Rumah Min Ho. Sesampainya disana, aku segera menelpon Yoongi, agar ia langsung ke rumah Min Ho karena aku sudah menjemput Hima-run. Setelah menutup telepon, aku dan Hima-run pun baru menyadari bahwa warna baju kami bertiga adalah merah.
                “Wah kita seperti mau demo saja ya…?”, candaku.
                Setelah itu dataglah Yoongi dengan wajah marah namun tetap terlihat calm. Ia memarahiku yang plin-plan ini. Aku pun segera menyudahi pertengkaran ini, dan mengajak untuk segera ke rumah Se Kyung. Semuanya pun mengiyakan.
                Rumah Se Kyung ada di pinggir kota Busan, Korea Selatan. Sebuah desa dengan pemandangan alam yang indah dan juga ada kebun, serta bukit. Kami pergi kesana dengan aku bersama Min Ho berboncengan berdua, dan Hima-run bersama Yoongi juga berdua.
                Aku dan Min Ho memimpin jalan dengan berada di depan, sementara Hima-run dan Yoongi ada di belakang kami. Sepanjang perjalanan aku terus saja diam, dan hanya berbicara saat ia bertanya. Aku begitu deg-degan berada di belakangnya. Dalam hatiku sudah bertebaran bunga-bunga dan juga coffeti yang meletup-letup. Aku hanya bisa diam tanpa kata, takut salah bicara dan juga salah tingkah dibuatnya, karena sudah diketahui bahwa ketika aku bersamanya rasanya hati dan otakku ini tidak sinkron, yang membuatku sulit untuk berkata-kata.
                Hima-run dan Yoongi yang berada di belakangku pun hanya bisa tertawa cekikikan melihatku. Bahkan Hima-run mengirimiku sms.
                “Rena-chan, kamu kog gak pegangan sih, nanti jatuh lho. Pegangan saja ke pinggang Min Ho :P “
                “Kurang ajar”, balasku singkat dengan tersenyum pada merka berdua.
                Di perjalanan, aku hanya bisa memaki dirimu. Kenapa aku diam? Kenapa aku seperti ini? Aduh, apa yang harus aku lakukan? Kapan penderitaan ini akan berakhir? Sekitar satu jam bersamanya serasa begitu lama seperti kecepatan bumi berputar menurun drastis dan hanya kami berdua yng terjebak di dalamnya, mungkin karena aku terlalu gugup bersamanya. Karena ini adalah momen yang paling aku inginkan selama ini dari banyak sekali harapanku di wishlist.
                Sesampainya disana, kami pun disambut dengan ramah oleh orangtua Se Kyung, akum pun masih tak bisa merasakan atmosfir yang sepertinya mulai berubah merah muda. Sikap seperti biasa, itulah yang kurasakan. Semua berjalan seperti biasa, kami mulai belajar. Sampai kemudian,
                “Hahaha, lucu banget sih kejadian itu”, kataku sambil menahan tawa pada Yoongi.
                Aku pun segera menyudahi tawaku dan fokus pada setumpuk PR yang sedang di depan mata. Aku melirik kepada Min Ho yang kupikir tak menepati janjinya padaku karena ia tidak kunjung mengajariku PR yang begitu sulit ini. Aku pun hanya bisa mendesah dan mengeluarkan eye smirk.
                Kemudian, tanpa kusangka-sangka, atmosfir tiba-tiba berubah, serasa aku ada di dunia fantasi yang begitu indah. Ya, dunia seperti di dongeng Alice In Wonderland. Namun sayang, dunia ini bukan milikku, saat aku melihat mereka berdua, aku merasakan ada yang membisikkan sesuatu padaku.
                “Kau lihat, kau hanya pengganggu. Kau bukan siapa-siapa. Ku tak pantas untuknya. Lihat mereka, begitu serasi bukan?”, ia berbisik tepat di telingaku kemudian tertawa seperti devil yang telah menang perang.
                Saat kutoleh ke belakang yang kudapat hanya kehampaan, tak ada siapa-siapa di belakangku. Dan beberapa detik kemudian aku pun tersadar bahwa itu hanya ilusi, hanya imajinasiku. Aku selalu berfikir bahwa aku tertalu banyak mempunyai imajinasi sehingga terkadang aku hidup dalam mimpi dan merasa bahwa diriku telah tenggelam kedalamnya. Itu karena aku pikir bahwa aku sudah begitu nyaman di dalamnya, begitu gembira, membangun ceritaku sendiri seperti dalam dongeng. Hidup di dunia mimpi itulah diriku.
                Ku lihat Min Ho dan Se Kyung begitu nyaman ketika mereka bersama, begitu serasi. Tapi apakah kisah ini akan berakhis=r sampai disini? Belum, ini masih prolog.
                Ketika kami belajar, tiba-tiba Seo Young, adik Se Kyung menggangu kami. Terlihat dari auranya, ia begitu cerah, seperti sedang jatuh cinta. Tai bukankah ia masih Elementary School. Ah, sepertinya tebakanku meleset lagi. Kemudian ketika Min Ho menyuruhnya untuk memakai syal agar terlihat cantik, aku begitu heran. Secepat kilat ia segera masuk ke kamarnya kemudian keluar bersama sehelai syal cantik di tangannya. Ia pun dengan manja meminta Se Kyung untuk membantu untuk mengenakannya. Wah, sepertinya tebakanku kali ini benar. Ini buktinya. Lagi pula dulu ketika aku dan teman-teman ke rumah Se Kyung, kemudian salah satu temanku Yoon Ha mencoba mengejek Seo Young bahwa Seo Young menyukai Min Ho. Lucunya Seo Young kemudian langsung menangis, sepertinya begitu banyak yang menyukai Min Ho. Aku sendiri penasaran apa kelebihannya shingga dapat memikat banyak hati seperti ini.
                Karena lelah setelah belajar, Se Kyung mengusulkan untuk mengajak kami pergi melihat Buragu, sebuah bukit kecil nan indah. Kami pun kompak setuju dan langsung cabut ke sana. Seperti keadaan awal saat berangkat ke rumah Se Kyung, Hima-run bersama Yoongi, Se Kyung bersama Seo Young, dan Min Ho bersamaku. Perjalanan tak begitu jauh, tapi aku pikir perjalanan ini terasa begitu lama. Lagi, kenapa seperti ini lagi, apakah aku benar-benar telah menyukainya? Tapi bukankah pepatah mengatakan bahwa “Jika bersama orang yang kita sukai maka 1 hari terasa 1 jam, dan 1 jam terasa 1 detik”. Namun, kenapa aku malah merasa bahwa waktu semakin lama ketika aku bersamanya. Jadi, apakah aku menyukainya? Berkali-kali aku coba untuk bertanya pada hatiku ini, tapi ia masih tak menjawab. Ia justru tertawa mendengar pertanyaanku. Ia sendiri malah balik bertanya,
                “Ck, sekarang aku tanya apa yang kaurasakan? Aku rasa itulah jawabannya”, balasnya dengan nada sok bijak.
                Jalanan di penuhi pohon-pohon, namun terlihat begitu cantik, indah, moodku hari ini benar-benar sedang bagus. Kemudian, sampailah kami di Buragu. Tematnya begitu indah, rindang, tapi aku, Yoongi dan Hima-run kompak berkata,

                “Tempat ini indah, tapi tak sebagus Kebun Teh, ehm so sweet…”

- To be continued-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Himaya mengatakan...

tak terasa sudah 3 tahun ya kejadian ituu :) .. so sweet sekali, sampai menguras perasaan hatii :D HAHAHA

Unknown mengatakan...

hahaha, iya... masih inget kamu.... kenangan masa lalu....

Posting Komentar